Kartini Hidup Saya…

Hari ini saya mendapatkan banyak sms dari teman teman yang mengucapkan Selamat Hari Kartini. Saya cuma bisa tersenyum sambil bengong.

Kartini??? Nama saya Windi, hehehe..

Terima kasih buat temen temen yang sudah ngucapin. Tapi saya kok rasanya masih ga pantes diucapin.

Kartini di mata saya adalah sosok seorang perempuan yang tegar… yang bijak… yang pintar… yang punya keinginan keras dan berusaha keras untuk mewujudkan keinginannya itu. Sudah melakukan banyak hal dan berkorban demi pendidikan dan kemajuan anak bangsa khususnya perempuan yang dulu mungkin dianggap tidak penting dan tidak perlu untuk mendapatkan ilmu juga pendidikan yang layak.

Saya tidak seperti itu. Dan saya rasa, saya masih jauuuuhhh dari itu.

Setiap tahun, setiap hari Kartini, ada ada saja yang bertanya pada saya, siapa perempuan yang saya kagumi. Saya selalu jawab MAMA.

Ya rasanya aneh saja kalau saya amat mengagumi perempuan lain sementara yang amat berjasa dalam hidup saya adalah Mama saya sendiri.

Mama mungkin tidak sepintar Kartini, Indira Gandhi, Margaret Thacher, Benazir Bhutto dan perempuan lain yang masuk dalam jajaran perempuan paling berpengaruh di dunia. Mama juga tidak sekaya Victoria Beckham dan tidak secantik Lady Di… Tapi mama telah membesarkan kami anak anaknya sejak kecil dan membesarkan kami dengan tangannya sendiri selama 17 tahun.

Papa meninggal saat kami masih kecil, dan mama tidak bekerja. Kami diboyong dari Pulau kecil Sumbawa kembali ke kampung halaman kami, Medan.

Mama mengusahakan semua yang bisa diusahakan agar kami tidak kekurangan. Tidak kurang makan, tidak kurang pendidikan dan tidak kekurangan kasih sayang. Kalau dipikir dengan logika, tidak akan mungkin kami bisa bertahan. Tapi dengan usaha mama, doa mama dan pertolongan Tuhan lah kami terus bisa bertahan, Insya Allah.

Setiap malam setelah belajar, mama selalu mengajak kami berkumpul untuk sekedar mengobrol dan sharing kegiatan kami sepanjang hari selama sekolah dan diluar rumah. Mama selalu berusaha bisa mengerti kami anak2nya dengan 3 kepala dan 3 keinginan yang berbeda beda.

Walaupun kami terkadang sering berselisih paham, tapi itu tidak menyurutkan kasih sayang kami terhadap Mama. Mungkin kehidupan kami tidak seenak saat Papa masih bersama kami, tapi kami belajar, bagaimana menghargai hidup yang terkadang diatas dan terkadang di bawah.

Saya, Kami, memang tidak mempunyai Papa lagi, tapi saya tidak pernah merasa ditinggalkan. Karena saya punya MAMA.

smoooooch!!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s