[Plankton] dan Pulau Pandang

 

photo by dani gunawan

photo by dani gunawan

Entah siapa yang pertama kali menelurkan ide untuk liburan, tiba-tiba saja sudah datang ajakan untuk pergi ke Pulau Pandang. Sedikit kaget karena sebelumnya salah seorang teman merekomendasikan Pulau Salah Nama.

Dan jadilah kami mengajak beberapa teman dan merencanakan persiapan untuk kesana. Karena belum ada salah seorangpun dari kami yang pernah ke pulau itu, jadi persiapannya sedikit membingungkan. Tapi yang terpenting adalah tenda, makanan dan minuman.

Pada hari Jum’at malam (4/3/2011) kami janjian berlumpul di pul KUPJ yang sudah saya pesan menuju Lima Puluh. Janjian sekitar pkl. 20.00 dan akhirnya ngaret 1,5 jam.

Perjalanan ke Lima Puluh sekitar 3 jam dan kami menginap di kos seorang teman. Alhamdulillah muat, karena jumlah kami 17 orang!! :D. Sabtu paginya, pkl. 06.00 kami sudah bergerak menggunakan angkutan menuju Pelabuhan Tanjung Tiram. Disana sudah menunggu kapal nelayan yang akan membawa kami ke Pulau Pandang. Jumlah total kami 26 orang, karena ada beberapa teman yang menyusul. Kami menaiki kapal nelayan yang besar yang sebelumnya sudah dipesan oleh teman yang kebetulan dinas di Lima Puluh.

 

Tidak sembarang orang boleh mengunjungi pulau ini. TNI-AL yang berpos di Pulau Pandang hanya mengijinkan para pengunjung yang telah mendapatkan surat ijin berkunjung dari Dinas Perhubungan Laut di Kota Tanjung Tiram. Surat Ijin kami pun telah diurus sebelumnya. Jadi pada saat kami tiba di Lima puluh, surat ijin kami sudah keluar.

Pulau Pandang merupakan salah satu pulau terluar yang berada di perairan Sumatera Utara. Pulau ini dijaga oleh Departemen Perhubungan. Petugas navigasi sebutan bagi mereka. Luas Pulau Pandang sekitar 8 Hektar nun jauh di Desa Bogak, Kecamatan Tanjung Tiram, Kabupaten Batubara.

Pulau Pandang

 

Benar-benar perjalanan yang kocak dan menyenangkan. Temen-temen photographer, sontak mengeluarkan kamera saat seekor lumba-lumba melintas. Tapi telat, lumba-lumbanya tidak kelihatan lagi. Sekitar 1,5 jam perjalanan, di sebelah kanan kami ada sebuah pulau. Ternyata itulah Pulau Salah Nama. Tapi kapal tidak bisa merapat kesana karena belum ada dermaganya.

2,5 jam perjalanan, dan di depan kami perlahan jelas terlihat sebuah pulau. Semuanya bersorak ketika nelayan yang membawa kami menyebutkan kalau kami telah tiba di Pulau Pandang. Begitu melihat pasirnya dari jauh saja, semuanya berdecak kagum. Batu-batu besar dan pasir putih, airnya yang jernih. Sungguh pemandangan yang indah.

Kami tiba pada saat air laut sedang surut. Jadilah kapal tidak bisa menepi dan kami harus turun ke air untuk sampai ke pantai. Para lelaki segera saja menceburkan dirinya ke laut. Sedangkan para perempuan dan barang-barang bawaan kami bergantian diantarkan ke tepi dengan menggunakan kotak fiber milik nelayan :))

Kenapa Pulau Pandang kurang terkenal oleh penduduk sekitar? Ya, karena yang mengetahui pulau itu hampir rata-rata nelayan yang memancing ke laut, kelompok pecinta alam, dan penyuka mancing saja. Penduduk masih sering memilih Pantai Bunga maupun Perjuangan sebagai tempat rekreasi. Dan itu tidak terlalu jauh dari pelabuhan Tanjung Tiram.

Di Pulau ini disediakan beberapa kamar bagi yang ingin menginap. Tapi saya dan teman-teman memilih untuk mendirikan tenda di pojokan pantai karena lebih terasa suasana pantainya. Kamar mandi hanya disediakan di dalam kamar, tetapi ada sumur diluar yang bisa dipergunakan untuk mandi. Tapi ya itu, hanya tertutup oleh seng seadanya alias terbuka, hihihi

Di Pulau ini tidak ada kantin, tidak ada resto, tidak ada kedai apalagi supermarket. Jadi, buat yang ingin berkunjung, bawalah makanan dan minuman sendiri. Kami sempat kekurangan air minum, tapi untunglah ada air tawar yang diambil dari persediaan penjaga mercusuar yang bisa kami masak.

Pulau Pandang, diapit oleh dua pulau yaitu Pulau Berhala dan Pulau Salah Nama. Untuk Pulau Berhala dijaga oleh anggota TNI, sedangkan Pulau Salah Nama adalah pulau tak bertuan, namun bermercusuar.

Walaupun sebenarnya bukan tujuan wisata, tapi banyak juga yang datang mengunjungi pulau ini. Pada malam kami disana, datang serombongan Klub mancing dan pulau kecil itu pun jadi hingar bingar. Sedikit kecewa sebenarnya, karena terlalu berisik dan terlalu ramai, tapi tak apalah. Untungnya tenda kami jauh dari rombongan pendatang itu, jadi kami bisa ngobrol sambil bakar ikan yang siang tadi diberikan oleh nelayan. Malah ada seorang teman yang ikut mancing bersama nelayan dan keesokan paginya mereka pulang membawa cumi yang banyaaaaaakkk!!!

Ada apa saja di Pulau Pandang

 

Departemen Perhubungan Distrik Navigasi yang menjaga Pulau ini, mereka berjumlah 5 orang penjaga navigasi plus disediakan pula rumah tinggal bagi penjaga plus lengkap dengan toilet. Petugas navigasi mulai masuk menjaga sejak tahun 1977, sekaligus disyahkan melalui Daftar Suar Indonesia (DSI) PETA Internasional. Adanya Mercusuar menengarai batas wilayah negara. Khususnya jalur laut. Dan sebagai lalu lintas para pelaut. Berhati-hati akan batu karang.

Untuk yang doyan fotografi, pulau ini benar-benar tempat yang pas untuk hunting foto. Batu-batu besarnya dan airnya yang jernih bener-bener membuat saya tidak berhenti berdecak kagum. Berhentinya cuma saat makan saja, hehe…

Tak lupa, ada balai tempat untuk berteduh. Bukan hanya itu, Puluhan pohon kelapa, mangga, ada jambu tumbuh di sekitarnya. Oiya, di pulau ini banyak sekali KUCING! Jumlah populasi mereka mengalahkan penjaga navigasi, hahahah… Cerita punya cerita ternyata kucing tersebut peliharaan para penjaga navigasi.

Kata salah seorang nelayan kami, terdapat sebuah batu alam besar yang terbelah dua yang dianggap keramat untuk tempat sembahyang dan berdoa orang Tiong Hoa dan Jawa. Namun saya belum sempat melihatnya ke atas. Mungkin untuk yang kedua kalinya nanti ya, heheeh. Soalnya saya belum sempat treking ke hutan di atas dan kata nelayan kami, di atas ada tempat bagus seperti kolam yang dibatasi batu-batu.

Hari Minggu siang, kami sudah harus bergerak pulang. Sedih dan belum puas rasanya. Dan lagi-lagi saat itu air laut belum pasang, sehingga kami harus berbasah-basah melewati air untuk naik ke kapal.

Perlengkapan :

  • Tenda, matras, dan sleeping bag (persiapan kalau kalau kamar penuh)
  • Makanan dan minuman sesuai hari menginap
  • Obat2an, lotion anti nyamuk
  • Kamera
  • dll, hhehehe
Akhir kata… harus ada kali kedua ke Pulau Pandang ini, dan semoga saat itu kami tidak kekurangan air lagi dan bisa lebih puas mengelilingi pulau itu 🙂

*photos by dani gunawan & windi siregar

Advertisements

12 thoughts on “[Plankton] dan Pulau Pandang

  1. Ralat bu':
    Alhamdulillah muat, karena jumlah kami 17 orang!! < == yg tidur dikosan dikurangi kami bertiga (kiki, wahyu ama dagu) :D makanya bisa muat hehehe Btw, km uda jalan2 ke atas…. 😀

    Like

  2. wih, keren bnget pantainya kak. beneran itu yg foto klihatan batu2 dalam airnya ya? perasaan ngga ada gitu di batu bara. jadi pngen ksana kl ada kawan. tapi males x berurusan k pnjaganya. he..he.
    kl mau ksana lgi,posting dulu y kak. mntau rombongannya masih nerima 1 org lagi. he..he

    Like

  3. @b anto… mantabb bang…. *cek jadwal 😀

    @b dani… hahaha iyya lupaaa.. malah jaki ama ferry diungsikan ke tempat siapa gitu yaa :D. Iyalah bang bay ama engkau udah ngilang aja pagi2 gelap gulita gitu :)))

    @saiful … bagus ya foto batu dalam aer itu??? itu tu yang moto yang komen di atas saiful, heheeh

    Like

  4. wuuuuuuuuuah…
    bersih banget
    indah sekali pantainyaaa

    hiks, ngiri deh
    26 orang kesana, pasti rame dan seru
    kalo aku ikutan, pasti udah diving deh
    gak tahan lihat air laut yang jernih banget itu

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s