Komodo dan Kadal

Beberapa hari belakangan banyak sekali pesan yang masuk ke blackberry saya yang mengajak semua orang untuk vote Taman Nasional Komodo sebagai 7 keajaiban dunia dengan biaya sms yang sangat murah yaitu 1 rupiah.

Tapi emang dasarnya pelit, ya tetep aja gak mau sms walo udah se murah itu, hihihihihi..

Bukaaann, bukan karena pelit. Memang gak tergerak aja ni jari jari buat ketik sms 😀

Ada juga pesan yang masuk di blackberry saya yang menyanggah tentang tidak perlunya untuk vote Taman Nasional Komodo, dan saya rasa sepertinya masuk akal. Tapi karena saya tidak ngerti ngerti banget, jadinya ya gak mau ikut ikutan.

Logikanya saya sih, kalau Taman Nasional Komodo masuk 7 keajaiban dunia, pasti setelah itu bakal rame banget orang yang berbondong bondong dateng kesana. Trus tiket pesawat jadi murah, dan semakin ramelah turis yang berkunjung. Kebayang gak sih, kehidupan para komodo yang biasanya tenang, bakal di usik oleh ramainya kita yang sekedar penasaran. Belum lagi orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang tidak bisa menjaga kebersihan disana. Okelah Kalau ada dana digulirkan untuk pemeliharaan kebersihan dan pelestarian disana. Kalau ternyata tidak, pasti gak ada yang mau bertanggung jawab kan.

Mungkin perlu dipikirkan yang disebutkan pakar komodo dunia, Putra Sastrawan yang telah meneliti komodo selama 42 tahun. Mungkin akan banyak yang didapatkan dari terpilihnya Taman Nasional Komodo sebagai 7 wonders, tapi tidak dipikirkan bagaimana kelangsungan hidup satwa itu sendiri.

Lagipula, selama ini Pulau Komodo juga sudah sangat dikenal. Dan UNESCO sudah mengakui Taman Nasional Komodo sebagai World Heritage Site sejak tahun 1991.

Prof. Putra Sastrawan malah menyerukan stop dukungan voting Taman Nasinal Komodo di #new7Wonders. Menurutnya, Pulau Komodo tak perlu menjadi ‘mass tourism’ mengingat komodo sangat sensitif dengan perubahan iklim dan perlakuan manusia.

Liat deh Bali, sekarang udah rame banget. Akses kesana pun semakin gampang. Tapi saya pribadi merasa Bali sudah gak unik lagi, cuma jadi tempat wisata biasa. Dibalik semua keindahan di Bali, saya merasa Bali sudah tidak istimewa lagi.
Seorang teman saya yang pernah tinggal di Bali pernah mengeluh pada saya. Dia bilang “Kuta sekarang rame banget. Padat. Bukan cuma orang pribumi, bule juga makin banyak tinggal di Bali.”
Dan liat aja, gaya hidup disana juga sudah semakin bebas, sepertinya mengikuti gaya hidup yang dibawa oleh para pendatangnya.

Mungkin ada baiknya juga akses ke suatu daerah yang unik tidak dipermudah dan dipermurah agar orang-orang tidak gampang untuk datang kesana dan insya Allah kelestarian dan keindahan daerah itu tetap terjaga.

Disamping rasa ingin tau kita untuk menyambangi suatu daerah yang unik dan indah, seharusnya kita mengerti bahwa tidak selamanya “ramai dan banyak” itu menyenangkan. Kita tidak pernah terpikir, apakah suatu populasi di suatu kawasan merasa keberatan dan terganggu dengan hadirnya kita.
Terkadang ada masanya kita harus membiarkan sesuatu itu tetap indah dengan tidak menjamahnya secara berlebihan.

Ya ini sih opini saya pribadi yang sok keren :p. Saya yakin teman-teman yang lain punya opini yang berbeda dan semoga itu tetap baik untuk semua pihak 🙂

Advertisements

8 thoughts on “Komodo dan Kadal

  1. nah lo..
    aku setuju banget ma opinimu
    keren dah!

    sejak perubahan poling dari vote internet jadi vote sms rasanya udah gak bener,

    dan dari dulu aku benci yang namanya voting, sama seperti yang berkuasa dialah yang menang..zz

    Like

  2. Banyak cara lain untuk menambah devisa, ketimbang ngundang orang buat kenapa gak bisa #CTA yah?
    Cukup Tahu Aja

    Kenapa musti semua orang datang, berduyun-duyun, lalu bikin kotor, bikin semak, bikin sumpek..?

    Sepertinya kalau pun Komodo jadi salah satu keajaiban dunia, semua orang bisa tahu kan, toh juga masuk nominasi. Semua orang sudah aware.

    Gak perlu NW7 juga, di NatGeo Channel udah berapa kali aku lihat Komodo syuting gitu. Itu juga bisa jadi sumber pemasukan lho, jelas gak kemana uang-perizinannya itu?

    Like

  3. Nah lo kaann??
    seneeeng banyak yang setuju ama aku 🙂

    bener deh, sesekali kita harus bisa menahan hasrat untuk mengunjungi suatu daerah karena kecintaan kita, karena kita ga pengen terlalu banyak wisatawan yang datang dan malah mencemari daerah itu.
    Kita cinta Indonesia kita toh?

    Ini salah satu cara mencintai negeri kita, dengan membiarkannya tetap lestari 🙂

    Like

  4. Pendapat saya simpel aja.

    Bukankah kadal purbakala yang tersisa satu2nya di bumi ini hanya ada di Indonesia, di pulau Komodo? Tak ada di belahan bumi lain, 'kan? Jadi, menurut saya, tak usah masuk sebagai N7W pun tak masalah. Kalo penduduk dunia mau melihat sisa keturunan dinosaurus saat ini, otomatis mereka bakal ke Indonesia dong. 🙂

    Sebuah omong kosong kalo ada pihak yang bilang bahwa masuknya P Komodo ke N7W bisa mendongkrak wisatawan ke Indonesia. Bullshit. Ini adalah perkataan oknum pariwisata terkait yang malas mempromosikan P Komodo dan hanya ingin tampak sedang bekerja dengan momen N7W ini.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s