Kata Bapak , Aku Cantik

Aku menunggu Ibu dengan perasaan takut. Tidak biasanya Ibu belum pulang selarut ini. Ibu memang bekerja sebagai tukang cuci di komplek mewah di depan gang kumuh tempat aku dan Ibuku tinggal. Tapi biasanya, Ibu sudah pulang saat sore.
Kasihan Ibu. Harus bekerja keras untuk menghidupi dan menyekolahkan aku. Sementara Bapak bisanya hanya mabuk-mabukan dan menyusahkan Ibu. Tapi Ibu selalu sabar dan meminta aku agar terus menghormati Bapak.
Aku benci Bapak.
Bapak tidak sayang aku dan Ibu. Bapak sering memukuli Ibu kalau tidak diberi uang. Lalu setelah itu Bapak pergi berhari-hari dan kemudian akan pulang untuk meminta uang lagi kepada Ibu. Begitu seterusnya.
Aku capek melihat Ibu disakiti Bapak.

****
“Risa…” panggil Ibu dengan ketukan di pintu kamarku
“Ya bu…” aku beringsut dari tempat tidur dan membukakan pintu.
Ibu berdiri di depan kamarku dengan tersenyum
“Ada nak shafiq datang. Tadi katanya dia ke kantor kamu, tapi kamunya lagi cuti. Kamu temui yaa,,”
Aku memasang wajah malas dan mendengus kesal. Shafiq itu tidak pernah berhenti mendekati aku.
“Males bu.. tolong bilang aja Risa lagi gak enak badan, gak mau diganggu. Ya buuu…”
“Tidak boleh begitu. Kamu harus temui dia. Kamu sudah terlalu sering mengacuhkan dia. Nak Shafiq sepertinya baik.”
Aku mendengus kesal.
“Bapak juga dulu sepertinya baik waktu akan menikahi Ibu. Tapi setelah itu tabiatnya seperti binatang Bu.”
Wajah Ibu menegang mendengar perkataanku.
“Risa, kamu tidak boleh begitu. Sejahat-jahatnya dia, dia tetap Bapak kandungmu. “
Ibu selalu begitu. Selalu saja begitu.
Bahkan pada saat Ibu dijadikan alat untuk membayar hutang Bapak kepada temannya, Ibu selalu bisa sabar.
Aku ingat, pada malam itu, Bapak pulang bersama temannya. Seorang lelaki yang menurutku mempunyai tampang yang menjijikkan.
“Kamu cantik” katanya sambil melotot melihat tubuhku dan pandangannya terhenti lama di bagian dadaku.
Aku menunduk takut.
“Ibumu juga sangat cantik” pandangannya beralih ke arah Ibu yang segera berlari ke belakang dengan ketakutan.
Tapi lalu aku mendengar suara Bapak dan Ibu bertengkar di dapur, dan tak lama kemudian aku melihat lelaki itu dan Ibu masuk ke dalam kamar. Aku tidak tahu apa yang terjadi di dalam sana, tapi pada saat aku akan mendekati kamar itu, Bapak menarikku hingga aku terjatuh. Dengan isyarat matanya, Bapak menyuruhku masuk ke kamar.
Aku menurut sambil tetap memasang kuping. Aku mendengar suara lelaki dengan desahan yang saat itu rasanya seperti desahan binatang. Aku menutup kupingku sambil menangis.
Aku mual.

***
Akhirnya aku menuruti Ibu untuk menemui Shafiq. Dan Aku masih duduk di ruang tamu saat Ibu mendatangiku. Aku baru saja mengusir shafiq.
“Shafiq sudah pulang, Risa?” Ibu mengedarkan pandangan ke luar.
“Sudah, bu.”
“Kok tidak pamit sama Ibu?” Tanya Ibu heran
“Shafiq buru-buru, Bu.” Sahutku pelan.
“Kamu mengusir Shafiq ya?” selidik Ibu. Kemudian duduk di sampingku
Aku menghela nafas berat. Tapi tidak menjawab.
“Kamu tidak suka dengan Nak Shafiq?” Tanya Ibu lagi
Aku pandangi Ibu dengan perasaan sayang.
“Ibu ingin aku bahagia Bu?”
Ibu mengangguk pelan
“Tentu saja, Risa. Ibu ingin sekali melihat kamu bahagia. Ibu ingin melihat kamu menikah dan punya anak. Mempunyai keluarga.”
Aku berbaring dan menaruh kepalaku di pangkuan Ibu.
“Risa hanya ingin berdua dengan Ibu. Itu saja bu. Cuma itu yang membuat Risa bahagia.”
“Tapi kalau nanti Ibu mati, kamu akan sendirian. Ibu tidak selamanya bisa menemani kamu Nak.” Ujar Ibu sambil meng usap-usap rambutku.
“Biar saja Bu, Risa juga nantinya akan mati. Risa tidak takut sendirian.”
“Kamu masih sangat membenci Bapakmu sampai semua laki-laki juga kamu anggap jahat?”
Aku memejamkan mata. Bayangan bapak berkelebat.
Malam itu Ibu lembur dan aku sendirian di rumah. Bapak pulang dalam keadaan mabuk. Dia menarikku kekamar dan membantingku ke tempat tidur.

Kata Bapak, aku cantik.

Lalu kemudian Bapak menindihku tanpa menghiraukan isakanku dan rasa perih di antara kedua kakiku. dia terus menciumiku seperti anjing yang sedang menjilati makanannya. Dan suara yang keluar dari mulutnya adalah suara yang kudengar pada saat Ibu berdua dengan teman Bapak didalam kamar beberapa waktu lalu.
Aku sama dengan Ibu.
Ibu pasti kesakitan. Sama seperti aku sekarang.
Setelah puas, Bapak meninggalkanku dengan suara tawanya yang membuat kupingku terasa sakit. Hatiku sakit.
Perlahan aku beranjak keluar kamar.
Aku tidak ingat darimana aku mendapatkan pisau itu, yang kuingat hanya wajah bapak yang meringis menahan sakit saat mata pisau itu aku hujamkan ke ulu hatinya.
Aku puas.
Aku akan hidup bahagia hanya berdua dengan Ibu.
Ibu selalu berfikir Bapak masih hidup dan pergi meninggalkan kami.
Ibu tidak perlu tahu, Bapak selalu ada di halaman belakang rumah kami dulu.
Terkubur bersama sakit hatiku dan Ibu.

Advertisements

4 thoughts on “Kata Bapak , Aku Cantik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s