Akur

“Enaaakk!”
Ayunda melahap habis udang lada hitam buatan Andy.

“Kenyang? Tambah lagi?” Goda Andy.

“Jangan gitu ah. Aku jadi malu” sahut Ayunda dengan wajah memerah.

Andy tergelak. Tangannya bergerak mengacak acak rambut Ayunda.

“2 tahun dan ini tetap menyenangkan ya.”
Andy memainkan garpu ditangannya.

“Menyenangkan, sampai kadang aku lupa bernafas.”

“Untung cuma sebentar ya. Kalo kamu kelamaan lupa, aku gak punya pacar lagi deh.” Andy mengedipkan sebelah matanya.

“Maksud kamu?” Tanya Ayunda bingung. Tapi kemudian dia tersadar dan memukul pelan pundak Andy.
“Sialan. Kamu pengen aku wafat ya?” Tawa Ayunda terdengar renyah.

“Aku selalu butuh tangan lain untuk melukis pelangi.”

“Selalu ada 2 tangan ini untuk membantumu melukis pelangi.”

Andy memandang Ayunda yang sedang menatapnya.

Advertisements

One thought on “Akur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s