Antrilah di loket

pic from here
Bahagia itu adalah melihat orang-orang ngerti antri dengan baik :))

Kemarin baru saja menyempatkan diri untuk mengambil e-ktp di kecamatan. Sempat salah sangka karena di undangan tertera waktu pengambilan e-ktp mulai pkl. 08.00 – 15.30 WIB. Karena sore sepertinya tidak sempat, jadi pagi sebelum kerja, menyempatkan sebentar untuk mengambil kartu identitas elektronik itu. Belakangan baru tau kalau ternyata waktu pengambilan e-ktp Senin sampai Jumat pkl. 08.00 – 19.00, Sabtu pkl. 08.00 – 18.00 dan Minggu juga buka mulai pukul 09.00 – 12.00 WIB.

Pertama datang, sempat shock melihat ramainya manusia yang duduk dan berdiri. Bisa gawat kalau kelamaan. Apalagi kalau pengambilannya secara asal-asalan (bukan apatis, cuma sudah sering seperti itu πŸ˜€ ). Tapi ternyata sudah diatur dengan baik. Ada petugas yang menerima undangan. KTP yang lama dilampirkan bersama undangan, diurut berdasarkan siapa yang lebih dulu hadir kemudian undangan diantarkan ke ruangan sebelah. Penduduk yang sudah mengantarkan undangan diminta menunggu namanya dipanggil dari ruangan sebelah.
Di ruangan itu sudah ada 2 orang petugas verifikasi dan 1 orang yang memanggil penduduk sesuai urutan menggunakan pengeras suara.
Rasa khawatir lama menunggu atau persiapan mental diserobot orang lain tidak terjadi. Pengambilan e-ktp berjalan lancar dan cepat. Alhamdulillah saya puas dengan prosesnya πŸ™‚

Tapi tidak semua proses yang meng haruskan antri seperti itu membuat saya puas. Selebihnya malah membuat sakit kepala. Saya ingat, dulu pernah mengikuti tes masuk PNS di kota saya. Pada saat itu tempatnya di Stadion yang biasa dipakai untuk pertandingan sepak bola di daerah Teladan. Dan pada saat penyerahan berkas awal, orang-orangnya sama sekali tidak bisa diajak untuk antri. Semua saling dorong, saling serobot. 1 loket yang seharusnya hanya untuk 1 baris, bisa bisanya berkembang menjadi 5 baris. Proses penyerahan berkas menjadi semakin lama karena semua orang merasa dirinyalah yang lebih dulu memberikan berkas. Saya perhatikan sekeliling. Disini ada sekitar 2 loket untuk lulusan S1, 2 loket untuk lulusan D3, dan 2 loket untuk lulusan SMA. 6 loket tersebut tidak diberi pembatas oleh panitia, sehingga peserta seenak perutnya saja menerobos masuk ke antrian sebelahnya. Saya yang awalnya memang mau antri dengan teratur jadi gusar. Belum lagi harus di dorong kasar dengan peserta lain dari kanan kiri depan belakang. Mau gak mau harus mendorong dan menyikut orang yang tadinya mendorong saya. Kalau tidak begitu bisa tergencet dan kehabisan udara. Gak lucu ah gara-gara mau ikut tes PNS jadi pingsan karena kehabisan oksigen :)).

Sering saya mengalami kejadian dimana orang-orang tidak bisa mengantri pada tempatnya. Pada saat belanja di supermarket, menunggu angkot, beli nasi di warung, bahkan saat beli tiket nonton, dll. Dan kadang saya tidak segan menegur agar mengikuti antrian. Beberapa nurut, tapi beberapa lagi melengos dan tetap keras kepala. Kalau sudah seperti itu, biasanya saya maju sesuai dengan antrian saya. Tidak peduli kalau dia melotot menatap saya, ahhahaaaah!!
Seperti waktu saya mengantri untuk membeli tiket nonton di 21, saat itu di depan saya tinggal 1 orang lagi dan kemudian giliran saya. Saat saya masih memilih kursi, tiba-tiba dari belakang muncul cowok, dia menanyakan apakah tiket untuk film bla bla masih ada. Karena si mbak ticketing bilang masih ada, si cowo itu langsung saja memesan tiket untuk 2 orang. Si mbaknya malah ngeladenin. Saya langsung nyolot dong “Bang, gak liat saya udah berdiri disini duluan ya. Ngantri dong di belakang.” Si cowok melototin saya. Saya pelototin balik, trus dia balik ke belakang. Trus saya bilang ke mbak ticketingnya “Mbak, lain kali yang kayak begitu jangan diterima dong. Kan kasian yang udah ngantri duluan. Ntar mbak saya laporin ke manajer loh.” Trus aku melengos pergi (setelah dapat tiketnya dong :p).

Pernah juga waktu ke salah satu plaza di Medan. Jadi saat itu eskalator turun ke parkiran macet. Cuma bisa 1 eskalator untuk naik ama turun. Waktu giliran saya turun, ada 2 anak ABG mau nerobos ke depan saya. Langsung saya tahan, trus bilang “Satu baris aja dek, biar cepat.” Si anak ABG itu keliatannya kaget trus mundur. Hihihhiii… Saya memang nyolot kalau dalam hal beginian.

Heran lah melihat orang-orang ini. Apalah susahnya mengikuti antrian. Bakal dapat giliran juga toh. Dan pasti akan lebih cepat selesai. Tapi ya itu, orang-orang sepertinya tidak sabar untuk menunggu. Semuanya merasa punya kepentingan, jadi harus di duluankan. Kalau di tegur, marah, tersinggung. Mungkin lebih baik kalau dari pihak pelayanannya yang harus tegas. Seperti misalnya di loket-loket di beri garis antrian. Atau kalaupun mereka menerobos, petugas harus tegas menegur dan menyuruh orang-orang itu mengikuti antrian. Itu lebih baik. Semoga dengan begitu, orang-orang semakin sadar akan pentingnya antri. Kalau tidak mengerti juga, yaaa hanya Tuhan sajalah yang tau kapan dia akan mengerti :)).

Advertisements

6 thoughts on “Antrilah di loket

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s