Lebaran

Sudah lebaran lagi.
Bukannya sedih, tapi rasanya waktu terlalu cepat berlalu. Punya banyak rencana dan belum sempat direalisasikan, ternyata sudah kelewatan beberapa bulan. Rasanya masih sebentar, ehh ternyata udah puasa lagi, lebaran lagi, begitu seterusnya setiap tahun.
Lebaran punya cerita berbeda di setiap tahunnya. Ada senang ada sedih. Ada yang baru, ada yang kehilangan. Ada cerita tentang opor ayam dan printilannya, ada yang mudik, ada yang lebih memilih jalan-jalan, ada juga cerita tentang kesibukan tanpa asisten rumah tangga.
Cerita saya sederhana. Standard malah. Tapi bercita rasa istimewa karena lebaran itu moment setahun sekali. Moment berkumpulnya sanak saudara yang biasanya sangat jarang ditemui.
Sepupu, opung, tulang nantulang dan lain-lain tidak semuanya berdomisili di Medan. Ada yang di Jakarta, Bandung, Kalimantan, bahkan Brussel.  Dan tidak setiap tahun juga mereka bisa berkumpul di Medan. Jadi rasanya tidak keberatan kalau satu harian berkumpul bersama mereka.
Dulu, kami punya pengajian keluarga. Pengajian/perwiritan keluarga besar Pasaribu, tempat berkumpulnya anak anak, menantu, keponakan dan cucu yang jumlahnya sangat banyak. Banyak sekali sampai-sampai kalau dikumpulkan semuanya seperti sedang mengadakan pesta kawinan.
Perwiritan keluarga kami itu dilaksanakan setiap sebulan sekali. Tempatnya bergiliran di rumah opung atau tulang. Tapi kami bukan sembarang kumpul. Kami punya ustad yang datang setiap wirit untuk memberikan ceramah.
Disaat bulan puasa, frekwensi pertemuan ditambah menjadi setiap hari Sabtu, untuk berbuka puasa dan tarawih berjama’ah. Dan sebelum tiba saatnya lebaran, sudah dirundingkan tentang lokasi halal bi halal keluarga besar kami. Bisa dirumah siapa saja yang bersedia, atau kami menyewa gedung dan biayanya dilakukan secara urunan.
Di acara halal bi halal itu mungkin sama saja dengan acara halal bi halal lainnya. Makan makan, kumpul kumpul, dan saling bermaafan. Tapi yang paling aku suka kalau sudah tiba di acara bagi bagi uang. Siapa saja bisa membagikan uang. Tidak dibagikan merata, melainkan harus berebutan. Jadi si empunya uang berdiri di depan, uang dilipat, dilemparkan ke depan, ke kerumunan keponakan keponakan yang setelah itu akan saling tabrak sana sini untuk mendapatkan uang tersebut. Bahkan terkadang opung kami pun ada yang masih mau ikut berebutan dengan para cucu dan keponakan, hahahah! Terlebih kalau yang dilemparkan itu uang berwarna biru atau merah. Abis deh para anak anak kecil kegencet gak bisa berbuat apa-apa. Tapi yaa bagi yang tidak dapat sama sekali tetap dibagikan angpau. Acara tadi hanya untuk seru-seruan.
Tapi sekarang perwiritan kami itu udah gak ada lagi. Jadi setiap lebaran udah jalan masing-masing.
Terasa aneh awalnya tapi terbiasa juga lama kelamaan.Yaudah yuk udahan curcol lebarannya. Besok mau terima tamu lagi atau malah keliling lagi, hihihi..Selamat Idul Fitri ya semua temen-teman blogger. Maaf lahir batin. Semoga kita masih berjumpa di Ramadhan berikutnya
Amin 🙂

*opung = nenek/kakek
*tulang = paman
Advertisements

2 thoughts on “Lebaran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s