Bukit Lawang dan printilannya

Ini sedikit diluar rencana sebenarnya. Rencana awal kami,  mau berkunjung ke rumah Inggit di daerah Selesai,  Langkat. Keinginan untuk bersilaturahmi ini sudah lama kami omongin pada si empunya rumah,  tapi belum kesampaian juga. Akhirnya karena ada rejeki kesehatan,  duit dan keinginan yang kuat,  niatan itu terlaksana juga dan disambut baik oleh si empunya rumah. Tapi tetap saja rasanya kok sayang kalo cuma kesana tanpa mengunjungi tempat lain. Yaaa itung itung sekalian refreshing *fakir liburan* :))

Yang sebenar benarnya,  kami tidak tau apa saja lokasi wisata di daerah Langkat sana. Kalau mau ke Tangkahan,  dirasa kejauhan dan mendingan menginap. Terpikir dengan Bukit Lawang. Penasaran juga dengan tempat ini setelah banjir bandang tahun 2003 lalu. Kalau tidak salah juga,  itu pertama dan terakhir saya mengunjungi tempat itu sebelum bencana alam terjadi.

Dan pergilah kami, pasukan rimbang, dengan gegap gempita dan sorak sorai bergembira :p

Perjalanan ke Bukit Lawang sekitar 1,5 jam dari Medan. Kebetulan kami berangkat pagi dan tidak macet, jadi jalanan lancaaarrr.
Sesampainya disana, sesuai dengan prediksi saya, lokasi itu sudah rame dengan manusia. Rameeee dan rameeeee yang membuat sedikit males karena merasa sedikit tidak rela harus menghabiskan waktu di tempat ini dengan orang-orang yang berisik *egois*.

Entah siapa yang mengajak, tiba-tiba saja kami sudah berjalan kaki sedikit ke belakang. “Disana tidak banyak orang”, seru Firman. Saya menoleh, dan yang dimaksud Firman adalah di belakang, tempat berjejernya guest house. Sedikit lebih ke atas.

Dengan berjalan kaki, kami melewati beberapa penjual souvenir dan beberapa guest house yang semuanya terkesan “Bali” sekali. Malah ada penginapan yang terletak lebih ke atas lagi.

Bukit Lawang tampak depan
Di perjalanan ke atas, kita akan menjumpai panduan dan peringatan untuk wisatawan
Salah satu Guest House yang ada disana
Guset House yang terletak di atas. Ada beberapa lagi yang seperti ini, tapi lupa saya foto 😀

Bukit Lawang sudah menjadi konservasi orang utan sejak tahun 1973. Disini juga terdapat Taman Nasional Gunung Leuser. Menurut penjaga disana, kami hanya dperbolehkan masuk ke dalam Taman Nasional tersebut hanya pada pukul 08.30 dan 15.00 WIB. Di jam tersebut, orangotan diberi makan dan kita diperbolehkan kalau ingin ikutan memberi makan.

Ada juga aktivitas Tubing. Disini kita bisa menyusuri Sungai Bahorok dengan menggunakan ban. Kita hanya harus membayar sekitar 50.000 – 75.000. Ini juga tergantung kepintaran kita menawar.
Kemudian kita akan dibawa trekking membelah hutan, barulah menceburkan diri ke sungai.

Tubing

Saat itu, air sungai tampak surut. Biasanya, jika akan ke Taman Nasional, kita akan disebrangkan menggunakan sampan. Tapi saat itu, bisa saja menyebrang dengan berjalan kaki melewati sungai, karena memang arus sedang tidak deras dan air tidak terlalu banyak.

Taman Nasional Gunung Leuser ada di seberang

Dan pasukan rimbang segera menceburkan diri dalam air yang sejuk. Saya? Duduk duduk saja menikmati pemandangan yang disuguhkan 🙂

Ini perjalanan ke Taman Nasional
Airnya surut yahh
Abang-abang baik hati yang rela membawakan tas saya :))
Jerniiiiiiiiihhhh *airnya 😀
Gak pernah liat air :))
Bolehlah narsis yaaa :p
Pasukan Rimbang

Dan ketika perut – perut sudah meronta minta diisi, kami undur diri dari air air yang segar itu dan bergerak menuju rumah Inggit. Makanan enak sudah disediakan oleh Ibu Inggit yang baik hatiiiiiiii *peluk Ibu*

*beberapa foto diambil menggunakan kamera Natasia :*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s