Baju bekas di Kabanjahe

Sudah pernah berburu barang bekas?

Atau, sudah pernah berenang di antara tumpukan baju-baju bekas?

Saya pernah. Sering malah 😀

Entah kenapa, ada kenikmatan tersendiri saat mendapatkan barang-barang yang kita suka dengan harga yang sangat miring sekali.

Miring?? Murah banget malah :))

Untuk di kota Medan, orang-orang sering berbelanja barang bekas atau sering disebut barang monja, di daerah Pajak Sambu, Pajak Melati, Pajak Aksara, Pajak Petisah lantai atas, Pajak Simpang Limun, Pajak Simalingkar, atau Pajak Helvetia. Disana kita bisa mendapatkan beberapa item barang seperti baju, celana, horden, selimut, seprai, syal, pakaian dalam, topi, tas, dll. Kondisi barang bekas itu berbeda beda. Kalau yang sudah dipisah dan dipajang, biasanya harganya sudah mahal dan kondisinya masih bagus sekali. Tapi kalau masih ada di tumpukan lantai, harganya muraaaaahhh sekali. Barang-barang itu sepertinya dari Korea deh (liat dari merknya). Saya sering dapet baju dengan harga 2500 rupiah dan 3ooo rupiah. Ada juga yang 7500 atau 10000 rupiah :D. Bayangkan saja, dengan bekal duit 100.000, bisa pulang bawa berapa potong baju atau celana tuh :))

Itu tadi yang setiap hari ada. Atau kalau di Pajak Melati, ramenya biasanya pas pekan, yaitu hari Selasa, Jum’at dan Minggu (sampe hafal kan :p)

Ada juga yang musiman. Seperti di Kabanjahe, Sumatera Utara. Setiap perayaan 17 Agustus, di tengah kota ada pawai dan jualan barang monja itu di sepanjang jalan. Pokoknya sejauh mata memandang, tersebar kios kios dan barang-barang monja. Apa nggak sedaapp :)). Menurut pengakuan beberapa penjual yang saya tanyain, mereka itu para penjual yang biasanya berjualan di pajak pajak di Medan. Mereka sengaja ke Kabanjahe sehari sebelumnya untuk ambil lapak dan berjualan pada hari H. Dan harganya lebih murah lagi daripada harga yang mereka patok saat di Medan.

Tahun ini, saya dan teman-teman kembali lagi berburu barang-barang bekas di Kabanjahe. Karena masih libur sekolah, saya ajak Raffi untuk ikutan. Dan karena Raffi belum pernah belanja barang monja, dia bener-bener semangat sampai sedikit susah mengeluarkannya dari tumpukan baju-baju bekas itu (ini sedikit lebay, hahahah!)

Seperti tahun lalu juga, kami menginap di rumah Firman. Sebelum ke Kabanjahe, kami singgah sebentar di pemandian air panas Lau Sidebukdebuk. Udah bertahun-tahun tinggal di Medan, belum pernah kesana. Makanya disempetin biar gak mati penasaran.

Kami sampai, sudah jam 10 malem. dan masih rame. Dan rata rata, tempat pemandian disana buka 24 jam. Ada juga cewek cowok yang mau naik gunung, mlipir bentar buat mandi trus lanjut jalan lagi. Kami disana sampai sekitar jam 12 malam.

kabanjahe
Ini foto sehabis mandi. Udah capek, udah kenyang dan siap siap lanjut ke Kabanjahe

Setelah makan dan beres-beres, kami lanjut jalan ke Kabanjahe. Udah malem ciinn. Hampir jam 1 pagi dan kota udah sangat sepi. Ada kelihatan beberapa tumpukan buntelan di pinggir pinggir jalan. dan beberapa tenda yang sudah dipasang untuk berjualan monja.

Malam itu kami tidur dengan tenang dan sedikit tidak sabar menunggu terang.

Daaann,, sudah pagiiiiii..

Saya masih leyeh-leyeh di dalam selimut, Raffi sudah jalan-jalan ke seputaran rumah Firman.

Sekitar jam 9 barulah kami benar benar bergerak keluar dari dalam selimut, mandi dan sarapan. Karena udaranya dingin, ada beberapa malah yang males mandi dengan alasan “nanti kan kotor abis pulang belanja. nanti siang aja mandinya”. Jelas itu memang alasan, karena sampai malam, gak kunjung mandi juga:)))

CYMERA_20140818_223356
Tumpukan sepatu bekas. Harganya mulai 5ribu sampai 25ribu. Karena datangnya pagi, masih dapet yang bagus. Raffi lupa diri :))
CYMERA_20140818_223053
Sarung tangan. Sepasangnya 5ribu. Tapi nyari yang sepasang ini susah. Cuma yang kanan aja yang ada :))
CYMERA_20140818_222837
Tahun lalu, abang penjual ini juga pakai kostum yang sama. Kostum sapi. Untuk menarik pembeli :p
CYMERA_20140818_223027
Salah satu orang yang lupa diri belanja, sampai gak sadar kalau duitnya udah habis :))
CYMERA_20140818_005027
Wajah bahagia :))

Kami berkeliling sampai sore. Trus packing packing. Sebagian barang muat di mobil, sebagian lagi di pack untuk dikirim besok via bis.

Malamnya kami pamitan pulang dengan Mak Tua Firman yang selalu mau menampung kami. Berhenti sebentar di Penatapan untuk makan jagung dan minum bandrek.

IMG-20140819-WA0003
Nina hampir pingsan kedinginan, ternyata kelaparan. Itu Raffi bukan cemberut ya. Gak tau aja kenapa dia pose begitu :p

Senang, karena semua yang kami cari ada. Puas karena bisa ngumpul. Apalagi Raffi yang bisa jalan-jalan dengan orang dewasa, hahahha!!!

Kayaknya abis ini, saya udah bisa ajak Raffi naik gunung deh. Amiiinn

 

 

Advertisements

4 thoughts on “Baju bekas di Kabanjahe

    1. yang biasa di kabanjahe itu di pajak singa namanya. Nahh kalo 17 agustus, ada pekan, jadi penjual monja sambu apa pajak melati pun ikut pindah sehari di pekan ini. Dan harganya lebih murah bad. Kayak mereka ada jual bra, biasanya dijual di pajak melati 30rb -60rb, ini cuma 10rb. Kualitasnya bagus looh

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s