Review novel Sabtu Bersama Bapak

1420368353427

Baru ingat, setelah membeli dan membaca novel ini beberapa bulan yang lalu, saya belum membuat reviewnya. Padahal novel ini bagus sekali dibaca untuk kita-kita yang akan menikah atau bahkan sudah menikah.

Judul : Sabtu Bersama Bapak

Penulis : Adhitya Mulya

Penerbit : GagasMedia

Tahun terbit : Juni 2014

Cetakan : Pertama

Tebal : 278 hlm

ISBN : 979-780-721-5

Video mulai berputar.

“Hai, Satya! Hai, Cakra!” Sang Bapak melambaikan tangan.

“Ini Bapak. Iya, benar kok, ini Bapak. Bapak cuma pindah ke tempat lain. Gak sakit. Alhamdulillah, berkat doa Satya dan Cakra.

Mungkin Bapak tidak dapat duduk dan bermain di samping kalian.

Tapi, Bapak tetap ingin kalian tumbuh dengan Bapak di samping kalian. Ingin tetap dapat bercerita kepada kalian. Ingin tetap dapat mengajarkan kalian.

Bapak sudah siapkan.

Ketika punya pertanyaan, kalian tidak pernah perlu bingung ke mana harus mencari jawaban.

I don’t let death take these, away from us.

Idon’t give death, a chance.

Bapak ada di sini. Di samping kalian.

Bapak sayang kalian.”

—-

Ini adalah sebuah cerita. Tentang seorang pemuda yang belajar mencari cinta. Tentang seorang pria yang belajar menjadi bapak dan suami yang baik. Tentang seorang ibu yang membesarkan mereka dengan penuh kasih. Dan…, tentang seorang bapak yang meninggalkan pesan dan berjanji selalu ada bersama mereka.

Sabtu Bersama Bapak bercerita tentang kehidupan sebuah keluarga sederhana. Bermula dari seorang bapak bernama Gunawan Garnida, yang memiliki seorang istri bernama Itje dan memiliki 2 orang anak; Satya dan Cakra. Gunawan menderita kanker ketika kedua anaknya masih kecil. Sadar kalau umurnya tak lama lagi, Gunawan punya ide untuk tetap ‘menemani’ langkah hidup anak- anaknya hingga mereka dewasa tanpa kehilangan sosok seorang bapak. Maka, sebelum meninggal, beliau memutuskan untuk merekam ratusan video dirinya bermodal sebuah handycam , yang berisi pelajaran hidup dan nasihat nasihat—dengan bantuan sang istri. Proyek video ini berakhir sampai sang bapak mengembuskan napas terakhirnya. Sepeninggalan Gunawan Garnida, video video ini kemudian diputarkan oleh sang istri kepada kedua anaknya secara berkala di setiap hari Sabtu, pada momen tertentu. Itulah kenapa novel ini diberi judul Sabtu Bersama Bapak .

Satya dan Cakra tumbuh dewasa bersama petuah petuah bapak dalam berbagai rekaman video, begitu pun bagi Bu Itje.

Buku ini bercerita:

Tentang Satya—yang menikahi perempuan bernama Rissa dan dikaruniai 4 orang anak. Satya dewasa tumbuh menjadi sosok yang emosional dan sedikit tempramental, terutama dalam mendidik anak- anaknya. Satya juga sering membandingkan Rissa dengan Bu Itje yang jago sekali memasak.

Tentang Cakra—yang menjalani kariernya sebagai deputy director dan perjuangannya dalam menemukan jodoh yang tepat.

Tentang Bu Itje—kehidupannya sebagai single parent bagi Satya dan Cakra dan berbagai problema yang dihadapinya.

Di awal, saya memikirkan alur yang serius, sedih dan berurai air mata. Tapi belum pertengahan, sudah membuat terbahak-bahak.

Beberapa kutipan percakapan yang menurut saya konyol sekali:

“…membawakan berbagai macam rambut palsu

untuk Ibu Itje. Dari semuanya, terdapat juga model rambut Sailormoon dan Harajuku.” EPIC! :)))

Atau, waktu Cakra disapa oleh Wati, karyawati di kantornya

Wati: Pagi, Pak Cakra

Cakra: Pagi Wati

Wati: udah sarapan, pak?

Cakra: udah wati

Wati: udah punya pacar pak?

Cakra: diam kamu wati! :)))

Atau saat disapa oleh Firman, karyawan di kantornya juga

Firman: pagi pak

Cakra: pagi firman

Firman: pak, mau ngingetin dua hal aja, bapak ada induksi untuk pukul 9 nanti di ruang meeting

Cakra: oh iya. Thanks. Satu lagi apa?

Firman: mau ngingetin  aja,  Bapak masih jomblo

Cakra: enyah kamu

Banyak adegan lucu antara Cakra dan karyawan-karyawannya yang sering menjahilinya karena Cakra belum juga punya pacar.

Tapi ada juga bagian sedihnya. Novel ini banyak berisi pesan-pesan moral tentang hidup yang bukan sekadar kalimat-kalimat motivasi pasaran.  Sosok Gunawan Garnida di sini memberi kita pelajaran bagaimana menjadi seorang bapak yang bijaksana tanpa tercemariisu-isu politik maupun black campaign .

Waktu dulu kita jadi anak, kita gak nyusahin orangtua. Nanti kita sudah tua, kita gak nyusahin anak. (hlm. 88)

Menjadi panutan bukan tugas anak sulung—kepada adik-adiknya. Menjadi panutan adalah tugas orangtua—untuk semua anak. (hlm. 106)

Laki, atau perempuan yang baik itu, gak bikin pasangannya cemburu. Laki, atau perempuan yang baik itu… bikin orang lain cemburu sama pasangannya. (hlm. 227)

Intinya, novel semi-komedi ini cocok untuk kamu—baik sebagai anak, sebagai ibu, sebagai bapak, sebagai orang dewasa yang belum laku, atau yang paling utama: sebagai pembaca yang suka akan buku-buku

‘berisi’ dari penulis lokal. Adhitya Mulya telah menulis dengan baik di novel ini.

Saya beri 4 bintang untuk buku ini

Advertisements

2 thoughts on “Review novel Sabtu Bersama Bapak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s