Prasangka Baik

Sering membaca nasihat nasihat di beberapa web islami, buku atau tweet-tweet para pendakwah membuat saya akhirnya makin meresapi dan merasa jika agama itu menenangkan. Sakinah. Sampai akhirnya saat bulan puasa lalu, saya menonton ftv islami. Disitu ada adegan seorang Ibu yang mengangkat seorang anak jalanan sebagai anaknya sendiri. Padahal si anak berniat jahat padanya. Pada suatu ketika, si ibu dan suaminya pergi solat tarawih. Si anak tinggal di rumah megah mereka sendirian dan terpikir untuk memeriksa kamar orang tua angkatnya tersebut. Di meja rias, ada dompet berwarna hijau. Di dalamya terdapat uang dalam jumlah banyak. Si anak secepat kilat menutup kembali dompet dan bergegas keluar rumah untuk kabur membawa dompet tersebut. Sesampainya di teras, ternyata si Ibu datang. Katanya ketinggalan dompet makanya balik lagi ke rumah. Si ibu melihat dompet miliknya di tangan si anak dan berkata “Terima kasih ya. Kamu pasti mau mengantarkan dompet ibu ini ke masjid kan?” Si anak hanya tertegun sambil menyerahkan dompet tersebut. “Kamu memang anak yang baik.” Ujar si Ibu lembut. Si anak merasa heran kemudian bertanya “Ibu percaya saya? Ibu tidak takut dompet Ibu saya bawa lari?” Si Ibu tersenyum dan berkata “Ibu menjaga prasangka baik ibu. Ibu percaya kamu tidak akan jahat sama ibu. Dan benar kan, kamu malah mau mengantarkan dompet ini ke Ibu.”

Saya, manusia biasa yang masih sangat sukar sekali untuk menjaga pikiran dan prasangka baik saya. Walaupun tidak akan saya biarkan terus menerus seperti itu.

Nah, jadi beberapa hari sebelum lebaran, Mama minta tolong sama adik ipar untuk memotong ujung-ujung pohon yang ada di depan rumah. Potongan dahan dan daun-daunnya banyak sekali dan tidak muat jika ditaruh di tempat sampah depan rumah. Dan tukang sampah di komplek ini cuma mau mengangkat sampah rumah tangga saja. Selain itu, mereka tidak mau dan biasanya kasi harga untuk upah capek.
Karena tidak tau harus membuang sampah dahan pohon itu, mama minta tolong kepada tukang sampah supaya membawa dahan2 itu sehabis lebaran nanti. Si abang tukang sampah menyanggupi dan mereka nego harga. Setelah harga disetujui, si abang janji akan membersihkan sampah dahan pohon itu di hari ke 7 lebaran. Duit pun diserahkan duluan karena takut nanti gak ada orang di rumah untuk serahkan upah capek abang itu.
Pada kenyataannya sampah-sampah itu tidak kunjung diangkat dan dibersihkan. Dan karena saya juga tidak ada di rumah, terpaksa pasrah karena tidak bisa menunggui abang tukang sampah itu lewat depan rumah.
3 hari lewat, 5 hari lewat, seminggu lewat. Sementara daun-daunnya makin kering dan berterbangan kemana mana. Gak enak juga sama tetangga sebelah dan depan karena daun daunnya beberapa terbang ke arah rumah mereka.
Tadi pagi, rasa kesalnya udah beneran kesel karena daun daunnya makin bikin kotor. Pokoknya waktu mau berangkat kerja trus ngeliat ke arah tong sampah, keseeel sekali. Sampe berniat mau marah marah ke abang tukang sampah jikalau ketemu di jalan nanti. Tapi kemudian istighfar. Mau marah juga gak ada gunanya. Teringat lagi tentang ‘prasangka baik’ itu. Kemudian dalam hati berdo’a semoga si abang tukang sampah datang untuk membersihkan hari ini. Sambil bolak balik berpikir ‘mungkin abang itu belum sempat. Bukannya malas. Mudah mudahan hari ini abang itu tergerak hatinya buat beresin sampah kami’.

Sepulang kerja, saya langsung masuk ke rumah tanpa melihat kemana mana lagi. Tapi terasa ada yang aneh. Kemudian saya keluar lagi dan melihat keluar. Sampahnya gak ada! Sudah diangkat! Baru pagi saya meminta dalam hati, langsung dikabulkan.
Sepele ya masalah sampah ini. Tapi saya merasakan efek dari pikiran dan do’a baik saya.
Sudah banyak kejadian yang membuat saya berfikir kalau Allah itu baik dan luar biasa, semakin kesini semakin bikin merinding dan senyum sendiri.
Untuk urusan bangun pagi saja, saya tinggal bilang sama Allah untuk membangunkan saya di jam yang saya inginkan, kemudian saya akan terbangun dalam keadaan segar tanpa alarm handphone.
Atau saat saya harus mencari Raffi yang belum pulang main dan harus berjalan kaki mengelilingi komplek karena ga pinter bawa motor, saya capek trus ngomong dalam hati “Ya Allah, capek sekali. Tolong munculkan Raffi yaa. Saya gak sanggup jalan lagi.” Dalam hitungan detik, Raffi muncul naik sepedanya.
Atau saat saya harus memberikan uang kepada mama padahal saat itu saya juga tidak punya uang. Saya pikir, mama mungkin sedang butuh, lebih butuh daripada saya. Beberapa jam kemudian, Allah memberikan rejeki 10kali lipat dari yang saya berikan ke mama.
Atau, saat saya meminta agar Allah menghapus perasaan cinta di hati, beliau benar benar mengabulkan disaat yang tepat.
Banyak hal yang sepertinya sepele. Tapi lagi lagi membuat saya tersenyum malu sekaligus senang dan bersyukur. Bersyukur karena saya tetap meminta tolong pada Dia walau untuk urusan remeh temeh.

Manja?
Tidak apa apa. Malah terkadang saya merengek seperti anak kecil saat berdo’a.

Prasangka baik itu tidak ada ruginya. Terlebih jika berprasangka baik pada Dia yang meniupkan nafas.

Saya menuliskan ini sama sekali tidak ada niatan untuk riya’. Naudzubillahimindzalik.
Saya hanya sedang jatuh cinta. Pada Dia yang selalu membuat saya tak henti hentinya tersenyum.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s