Review Tuesdays With Morrie

tuesdays

Mendapat rekomendasi buku ini dari Taman Bacaan Spirit waktu bingung mau pilih buku mana yang akan dibaca.
Cengengnya, waktu menuliskan ini saja saya mewek :p.
“Begitu kita ingin tahu bagaimana kita akan mati, berarti kita belajar tentang bagaimana kita harus hidup.”
Jarang sekali ada orang yang telah tau bahwa umurnya tidak akan lama lagi, tapi masih saja bersemangat dan melakukan banyak hal yang bermanfaat.

Dalam buku ini, Mitch bercerita tentang kesempatan keduanya bertemu kembali dengan mantan dosennya, Morrie Schwartz, pada bulan-bulan terakhir kehidupannya. Morrie terkena penyakit ALS (amyotrophic lateral sclerosis), sebuah penyakit ganas yang menyerang system saraf dan belum ditemukan obatnya pada masa itu (tahun 1994). Ketika mendengar kabar itu Mitch merasa bersalah dan memutuskan untuk mengunjungi Morrie.

Morrie menyambut kedatangan Mitch dengan hangat. Dan kemudian Morrie meminta Mitch untuk datang setiap hari Selasa untuk memberikan kuliah terakhirnya. Mereka menyebut diri mereka “Manusia Selasa”. Dan akhirnya, setiap hari selasa Mitch mendapatkan pelajaran berharga dari Morrie.

“Tanyakan kepadaku apa saja,” begitu selalu kata Morrie. Maka Mitch menulis daftar berikut:
Kematian
Ketakutan
Usia Lanjut
Kerakusan
Perkawinan
Keluarga
Masyarakat
Maaf
Hidup yang bermakna

Buku ini tidak tebal. Sekilas terkesan suram dan datar. Tapi membaca aktivitas Morrie, banyak lonjakan-lonjakan semangat yang berkobar dan pelajaran-pelajaran hidup yang sederhana tapi itulah hidup.

Kendati semua yang dialaminya, suaranya masih keras dan memikat, sementara otaknya sarat dengan jutaan pikiran yang terus bergolak. Ia ingin sekali membuktikan bahwa kata “sekarat” tidak sinonim dengan “tidak berguna.”

Morrie pantang menyerah. Banyak gagasan yang bermunculan. Ia mencatat semuanya dalam buku, amplop, sampul atau kertas. Ia mencatat di mana saja. Ia mencatat ungkapan filosofis tentang hidup di bawah bayang-bayang kematian. Morrie selalu bersemangat.

“Aku memberi kesempatan kepada diriku untuk menangis kalau itu perlu. Tapi setelah itu aku memusatkan perhatianku kepada hal yang masih baik dalam hidupku. Kepada orang-orang yang datang menjengukku. Kepada kisah-kisah yang akan kudengar. Kepadamu-setiap Selasa. Karena kita manusia Selasa.”

Morrie orang yang sangat optimis. Perjalanan menuju maut merubah semuanya. Merubah hidupnya. Morrie membuang semua yang tidak penting dan memusatkan diri kepada persoalan yang lebih penting dan melihat segala sesuatunya secara berbeda.

Ah, semangat Morrie membuat saya menangis terharu. Nasihat-nasihatnya pada Mitch, sederhana tapi menyentuh. Nasihat seorang guru, coach, dan sahabat.

Buku ini memperkaya hati dengan makna-makna kehidupan. Bersyukur sekali Mitch dapat bertemu dengan guru seperti Morrie yang tidak menganggapnya hanya sebagai seorang murid, tapi lebih dari itu.

“Kematian mengakhiri hidup, tetapi tidak mengakhiri suatu hubungan.”

Semoga kita juga memiliki Morrie dalam kehidupan kita 🙂

“Pengaruh seorang guru bersifat kekal; ia tak pernah tahu kapan pengaruhnya berakhir.”

                                                                                                                                     -Henry Adams-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s