Bumbu Tomyam Instant

Aku tu anaknya senang sekali kalo dapat oleh oleh. Apapun itu kalo namanya oleh oleh pasti bahagia #anaknyadoyangratisan.

Kemarin itu dikirimin oleh oleh bumbu tomyam dari temennya si Ibu, Kak Imas, yang di Penang. Kak Imas ini memang sering kirimin makanan atau kopi atau Milo atau semacamnya untuk kami dan Ibu dan Adiknya yang tinggal di Medan. Jadi biasanya kalo abis dikirimin, kulkas kami pasti penuh dengan makanan instant atau minuman sachetan atau juga ((( COKLAT))) :p. Nah kemari tumben ada bumbu bumbuan kayam bumbu tomyam. Setelah dibaca-baca, penggunaannya juga mudah. Tinggal panasin air, masukkan udang atau cumi atau sayur atau apapun yang pengen dimasak, trus masukkan bumbunya, aduk-aduk, trus jadi deh. Jadi untuk yang tidak mahir memasak seperti saya, bumbu semacam ini syurga sekaliiii.

Pak Suami yang penasaran sekali (atau lapar :p) dan maksa agar bumbu segera dieksekusi. Dan saya menyiapkan udang, bakso ikan, sosis dan daun bawang. Gak saya tambahin asam potong lagi karena katanya sudah asam.

20180714_191523

20180713_232456Oiya, bumbu ini produksi Thailand, tapi setelah saya cek, ada label halalnya kok. Alhamdulillah bumbunya membantu sekali dikala malas masak atau gak tau lagi mau masak apa. Mungkin setelah ini saya akan cari bumbu sejenis ini di Medan. Kan repot kalo mau beli harus ke Penang dulu :))

Iklan

Hello Tuesday!

PicsArt_04-17-03.48.34

Hari kerja dimulai dari Selasa. Itu kata saya. Karena Senin terlalu mainstream dan terlalu banyak yang takut dengan Senin. Kenapa takut? Karena harus berhadapan dengan pekerjaan lagi? Trus mau duduk duduk di rumah aja atau liburan terus tapi gaji jalan terus? #nyinyir :p

Saya sebenarnya sedang kehilangan nikmatnya bekerja kantoran. Tapi kepengen tetap sibuk. Dan saya belum cukup berani untuk berwirausaha atau kerja apapun yang aktivitasnya bisa dari rumah. Padahal kalau dibayang-bayangkan, kalau saya banyak di rumah, pasti akan lebih banyak lagi resep-resep masakan yang bisa saya coba ya. Atau rumah saya akan selalu bersih dan cantik karena waktu saya tidak habis terlalu banyak di kantor dan setibanya di rumah udah kecapean sehingga gak sanggup lagi megang sapu :))

Dulu, saya ribet sekali. Pagi sebelum berangkat kerja pengennya rumah udah beres. Dari mulai masak sampai beresin kamar dan seisi rumah. Atau malam sebelum tidur, semua piring-piring sudah harus dicuci dan gak ada barang berserakan lagi. Tapi lagi-lagi saya kalah dengan tenaga yang udah gak maksimal. Jadilah sekarang saya lebih sering pakai kacamata kuda dan ngomong sendiri dalam hati “rumah bersih. rumah bersih. rumah bersih”. Jadi kapan saya ada waktu, barulah saya beresin. Emak emak sekali rait? Tapi tetaaap saya gak tahan berjauhan dengan sapu walau sehari aja :p. Dan alhamdulillah mertua saya baik sekali mau memasak untuk kami tanpa kami paksa dan saya pun bertugas belanja setiap akhir minggu.

Jam tidur? Hanya beberapa jam. Kadang cuma 2 atau 3 jam. Apalagi kalau princess Sophia sedang sakit. Bisa-bisa saya melek semalaman. Dan terkadang ajaib karena tidak terasa ngantuk. Kalau pusing-pusing sedikit manusiawi lah yaa.

Me time? Saat semua orang sudah tidur, saya akan menyempatkan waktu sebentar untuk membuka instagram atau youtube. Lihat-lihat foto lucu, resep kue, berita artis, atau wallpaper lucu. Sambil ngemil coklat. Itulah kenapa saya gendut :)). Gak sehat ya kan. Tapi biarlah. Itu cara saya menikmati hidup. Setidaknya saya fokus browsing atau nonton youtube saat semua orang sudah tidur dan tidak mengganggu waktu berdua saya dengan anak.

Yang penting IKHLAS. Walo kadang ikhlas saya terbang. Yaa namanya juga manusia. Iman naik turun, ikhlas juga naik turun.

Ibu-ibu.. ada yang punya pengalaman kayak saya?

 

 

 

Mashed Potato With Salmon

Mashed potato with salmon (sok bule gitu 😂😂 ). Ini hasil diajarin si Ibu. Jadi Sophia udah gak mau lagi makan bubur yang kayak biasa dimakan. Si Ibu buatin mashed potato dan dia suka. Nahh si umaknya Sophia minta diajarin bikinnya. Kan gak mungkin makanan anak sendiri tiap hari dimasakin mertua ya kan. Ya kaaann.. Dan inilah diaaa 😗. Disimpan dalam wadah trus dimasukkan kulkas. Kalau mau dimakan, dipanasin dulu di microwave.

Resepnya,

1 buah kentang merah (aku pake kentang merah ukuran besar)
Brokoli (seseuai selera)
2gr ikan salmon (potong kecil kecil)
Satu sendok takar susu bubuk (aku pakai susu sophia)
1gr keju
1/2 sdt margarin
1/2 gelas kecil air

Cara membuat:
1. Kupas kentang, potong 4. Cuci kentang dan brokoli kemudian kukus.
2. Setelah matang, brokoli dan kentang dilumat/dihaluskan.
3. Masukkan ikan salmon, susu bubuk, keju, margarin dan air. Kemudian aduk sampai rata
4. Masak kembali adonan dengan api kecil sampai kalis
5. Angkat. Dinginkan.

Kembali

Beberapa bulan belakangan, tepatnya 7 bulan belakangan, saya terlalu sibuk dengan kerjaan dan anak. Mungkin sebenarnya lebih dari 7 bulan yang lalu, sudah sibuk sendiri dan tidak sempat membaca, singgah apalagi menulis di blog yang saya sayangi ini. Rasa rasanya ada yang hilang, tapi tetap saja tidak tersentuh.

Sejak melahirkan anak kedua saya, waktu rasanya kurang setiap harinya. Saya butuh mungkin sekitar 34 jam sehari agar semua bisa diselesaikan. Ya rumah, ya kantor. Apalagi, begitu cuti saya selesai dan saya kembali bekerja, saya sudah di tempat yang baru. Saya tidak mengurusi radio kampus lagi seperti sebelumnya. Sekarang saya mengurusi Dekan beserta jajarannya (sok serius :p). Karena bekerja di tempat yang baru dan di pusatnya fakultas, otomatis pekerjaan lebih banyak dibanding sebelumnya. Dan saya masih belum bisa mengatur waktu, masih suka deg degan takut salah dan takut tidak di tempat saat dicariin Dekan :p.

Di rumah, saya juga masi belepotan ngatur waktu, secara jam tidur saya berkurang semenjak punya bayi lagi. Badan rasanya lemes tak menentu kalo udah di rumah. Semangat lagi sih kalo udah liat anak bayik. Tapi rasanya udah gak sanggup lagi buat masak atau berbenah rumah. Jadi kalo udah di rumah dan liat rumah kayak abis diguncang badai, pura pura gak liat aja trus melaju ke kasur, hihihi.

Lambat laun, mulai bisa mengatur waktu sih yaaa. Udah mulai terbiasa juga. Si anak bayi juga udah mulai besar. Gak terlalu rewel kalo malem, jadi saya gak perlu bolak balik bangun lagi. Di kerjaan juga gitu. Udah tau gimana atur waktunya. Jadi gak keteteran kayak di awal masuk.

Semoga bisa banyak cerita lagi yaahh…

Si bayik

 

Meja kerja yang baruuu 😀

 

*kecup kangen dari jauh*

Hagia Sophia Hardian

photogrid_1488210005807-01.jpeg

Apa yang lebih menyenangkan, selain bertemu dengan sosok yang kau gendong kemana mana dalam perutmu selama 9 bulan ini?

Terharu.

Saat pipinya didekatkan dengan pipimu, saat mendengar tangisannya.

Rasanya ingin teriak saat dokter mengeluarkannya dan menyebutkan status kelahiran bayi.

Sehat, lengkap, berjenis kelamin perempuan.
Hagia Sophia Hardian.

Lahir dengan proses sectio cesar.

Berat badan 3,6 kg

Panjang 50 cm

Dibantu dr. Letta Sari Lintang, SpOG

wp-image-302323281jpeg.jpeg

Kurasa, bukan hanya aku yang haru. Aku tak pernah bertanya pada Ayahnya, apakah dadanya membuncah bahagia dan haru saat melafazkan adzan di telinga bayi yang baru saja kulahirkan?
Tapi, sudahlah. Aku yakin, proses melahirkan yang sakit ini tidak seberapa dengan perjuangan kami nanti membesarkannya.
Semoga banyak yang sayang padamu, Nak 🙂

screenshot_2017-04-13-12-36-59-01.jpeg

Menuju Hagia Sophia

Menuju Hagia Sophia
Saat hamil, yang bikin sebel adalah gerah dan sakit pinggang. Selain itu, kenyataan bahwa harus melahirkan secara sectio caesar. Angan angan untuk melahirkan normal seperti anak pertama dulu tinggal mimpi *didramatisir 😀

Alhasil, saya ganti dokter, karena saya pengen melahirkan dengan dokter yang saya mau dan di rumah sakit yang saya mau juga. Dan juga kenyataan kalau melahirkan dengan proses operasi adalah mahal dan dokter yang saya mau, menerima bpjs di rumah sakit yang saya mau tersebut.

Ada rasa nyesel, kenapa gak dari dulu saya konsultasi dengan dokter ini. Mengingat saya termasuk yang ngefans. Dulu, alasan saya karena prakteknya jauh. Padahal, setelah dijalani sekarang, biasa aja. Saya tenang, insya allah saya di tangani orang yang tepat.

Aktivitas saya sehari hari masih antara rumah dan kantor yang jauh. Masak cuma sesekali kalau tidak capek. Udah sering kecapean, sesak dan pegel pegel.

Hingga tibalah suatu hari, saya merasa sakit si perut bagian bawah dan pinggul bagian bawah. Sakitnya seperti mau haid. Jam 11 siang, saya permisi dari kantor, pulang ke rumah. Saya telfon suami untuk melaporkan kondisi saya. Suami langsung menawarkan untuk ke dokter hari itu juga. Padahal rencananya besoknya mau kontrol kandungan.

Malam, saya kontrol kandungan, di USG seperti biasa. Dokter bilang, saya mengalami kontraksi dini. Dan seharusnya tidak boleh karena belum waktunya. Faktornya, karena saya kecapean, atau karena si bayi sudah mendesak keluar. Jadilah saya dilarang kerja selama beberapa hari. Dokter meresepkan obat penguat janin supaya si bayi gak brojol. Malah saya disarankan untuk mulai mengambil cuti saja karena kondisi saya. Awalnya saya tidak mau, tapi ternyata saat kontrol minggu berikutnya, saya minta dibuatkan surat cuti sampai dengan setelah melahirkan nanti. Ternyata saya gak sanggup lagi jalan jauh dan naik turun angkot.

Selain surat cuti, dokter membuatkan saya surat pengantar untuk ditangani sectio caesar karena placenta previa di rumah sakit Malahayati. Iya, rumah sakit yang saya idamkan untuk lahiran karena rumah sakit islam dan pengalaman adik saya kemarin sewaktu melahirkan disana baik sekali.

Awalnya saya rikues untuk tanggal kelahiran, yaitu 3 maret. Tapi dokter melarang, karena terlalu dekat dengan hari perkiraan lahiran (hpl). Dikhawatirkan saya mengalami kontraksi lagi, sedangkan saya akan operasi, jadi tidak disarankan kontraksi lebih dulu. Setelah pikir pikir, akhirnya diputuskan tanggal 27 Februari, hari Senin pagi.

Hari hari berikutnya saya mulai mencicil barang barang untuk dibawa ke rumah mama. Rencananya saya memang mau di rumah mama dari lahiran sampai habis cuti nanti. Biar ada yang bantuin dan nemenin saya. Jadi, suami dan anak saya Raffi ikutan pindah sementara.

Setelah urusan pindahan selesai, sehari hari saya lebih banyak istirahat, berdoa dan menenangkan diri. Hingga tibalah hari Minggu malam, dan saya beserta suami meminta ijin pada Mama saya untuk ke rumah sakit. Malah suami mengajak saya singgah sebentar di gerai kopi untuk membeli coklat panas karena saya terlihat gugup. Kami juga menghabiskan waktu untuk sholat maghrib dan isya di salah satu mesjid hotel dekat gerai coklat tadi. Kemudian kami makan malam, janjian dengan adik saya dan suaminya, kemudian kami barengan ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, saya diperiksa, dan dipersiapkan puasa untuk operasi besok pagi. Alhamdulillah perawat di ruang IGD dan ruang bersalin baik sekali. Tidak ada perasaan terintimidasi dan selalu mengingatkan untuk selalu berdzikir. Dan lagi lagi saya berusaha menenangkan hati, bahwa semua akan baik baik saja :).

Daftar Keperluan Bayi

Memasuki minggu ke 39 kehamilan, saya mulai berbelanja kebutuhan bayi. Mungkin karena ini anak kedua, walaupun usinya jauh sekali dengan abangnya, tapi saya gak mau kalap. Jadi saya beli yang perlu-perlu saja.

Supaya belanjanya tidak melebar kemana-mana, saya membuat list belanja, apa-apa saja yang paling diperlukan. Saya browsing, dan akhirnya saya memakai panduan dari mbak Fifi Alvianto . Sepertinya ini yang paling lengkap dan paling masuk akal.

belanja-perlengkapan-bayiTapi ya itu, semuanya disesuaikan dengan kebutuhan dan isi dompet kita yaaaa.

  • Saya tidak membeli banyak banyak pakaian dan celana. cukup beberapa atau 1/2 lusin saja. Untuk celana poop, singlet, kaos lengan pendek, saya beli selusin, karena bisa dipake sampai agak gedean. Itu juga saya cari yang bahannya lembut dan elastis
  • Bedong, kaos kaki dan kaos tangan hanya ada beberapa. Sisanya saya dapet lungsuran dari adik saya 😀
  • Popok kain juga tidak terlalu banyak karena pengalaman si abangnya dulu, itu cuma dipakai sebentar saja. Setelah itu lebih sering memakai celana dan diapers.
  • Diapers kain saya cuma punya 5. Itu juga dikasi temen saya 😀
  • Topi dan slaber hanya sesekali digunakan. Jadi saya hanya punya masing-masing 2
  • Bak mandi bayi saya beli yang pinggirannya rendah dan harganya tidak terlalu mahal, hahaha. Saya masih suka kaget liat ibu ibu yang beli bak mandi bayi sampai setengah juta, padahal cuma dipake sebentar. Kalo saya sih, yang penting plastiknya aman, tidak ada sambungan yang tajam yang bisa melukai kulit bayi.
  • Untuk toiletries, saya membeli merk chicco. Katanya sih sabunnya aman. Tidak banyak busa seperti sabun bayi lain.
  • Baby box belum saya beli karena merasa masih belum perlu. Mungkin nanti akan saya beli jika diperlukan. Karena bayinya kan masih kecil, jadi saya memilih untuk tidur bersama si bayi
  • Sterilizer, saya juga belum beli, karena kata si suami, masih bisa diakalin dengan magic jar di rumah. Ada satu yang nagnggur. Kan sayang kalo gak kepake.
  • Stroller, naahh ini yang mungkin nanti akan dibeli. Karena lumayan memudahkan kalo membawa bayi jalan jalan

Saya sudah mulai mencuci baju baju bayi dengan detergent khusus untuk pakaian bayi. Saya simpan di dalam laci yang isinya hanya baju bayi, tidak saya campur dengan yang lain. Sementara barang-barang lain yang belum terpakai, saya simpan di dalam kontainer.

Sebelum belanja, buat list dulu supaya tidak bingung dan over budget. Bisa juga browsing sana sini supaya dapat barang yang benar-benar sesuai di hati. Beli seperlunya dan semampunya, karena bayi kan cepat tumbuh. Sayang kalo barang-barangnya udah dibeli banyak tapi cuma kepake sebentar. Kecuali untuk barang-barang yang bisa dipakai jangka panjang, bolehlah dibeli agak mahal dan sedikit lebih banyak jumlahnya.

Selamat berbelanja!

PUNYA ANAK LAGI?

Alhamdulillah, setelah kehamilan sekitar 13 tahun yang lalu, saya masih diberikan rejeki untuk mempunyai anak lagi (insya allah). Semua jadi seperti baru lagi karena sudah lama sekali ya kan, anak saya aja sekarang sudah SMP kelas 2. Tapi setelah pernikahan kedua pada April lalu, ternyata gak perlu nunggu lama untuk saya hamil :D.

Awalnya, sekitar 10 hari sebelum lebaran. Sepulang kerja, saya merasakan sakit di bagian pinggang. Waktu akan turun dari angkot, tiba-tiba pinggang kerasa tertarik. Dan dengan susah payah saya turun dari angkot dan pelan pelan berjalan menuju rumah.
Setiba di rumah, saya langsung rebahan dengan harapan akan membaik. Tapi ternyata enggak. Saya sampai berkali-kali nangis menahan sakitnya. Untuk sholat saja saya terpaksa duduk. Dan seharian gak bisa mengerjakan apa-apa selain rebahan.
Diantara sakit, saya juga khawatir, jangan-jangan ada syaraf yang terjepit. Tapi masih gak berani mikir macem-macem. Keesokan paginya, saya diantar suami ke rumah mama, kemudian minta ditemenin mama ke tukang urut dekat rumah. Kata wawak tukang urutnya, saya dulu pernah jatuh terduduk, makanya sakit. Saya ingat-ingat, dulu waktu hamil Raffi 5 bulan, saya memang pernah jatuh terduduk. Tapi itu udah 13 tahun lalu ya kan. Saya masih juga mikir kalau ini syaraf terjepit. Tapi si wawak kemudian bilang kalau payudara saya yang kanan membengkak. Katanya mungkin saja hamil. Dan saya masih keukeuh kalau ini syaraf terjepit (keras kepala :D).
Karena kekeras kepalaan saya, saya mau rontgent saja rasanya. Tapi adik saya ngingetin “Kak, sebelum rontgent, beli test pack dulu sana. Manatau hamil.” Mau gak mau saya turutin, dan ternyata ada dua garis ini :))

IMG_20160629_225013

Karena masih gak percaya, besoknya saya beli lagi, dan kali ini testnya begitu saya bangun dan buang air kecil.

IMG_20160629_221913

Hasilnya sama. Garis merah terang dan samar. Itu juga saya masih ragu :)))))). Besoknya saya ditemenin ke dokter, di USG Transvaginal dan katanya memang ada tanda-tanda kehamilan :D. Tapi masih kecil sekali dan belum kelihatan kantung janinnya. Jadi saya diberi resep vitamin dan penguat janin.

IMG_20160701_140158

Itu, yang titik item itu dia. Masih kecil kan, hihihihi. Ukurannya 0,43 cm dan usia kandungan dihitung dari hari pertama selesai haid. Itu juga saya masih percaya gak percaya (iya, aku orangnya gak cepat percayaan mz :)))). Si dokter menyuruh saya untuk datang lagi bulan depannya, untuk melihat apakah kantung janinnya sudah ada.

1469596608182

Dan ternyata sudah adaaa!!
Alhamdulillah semua normal, rahim saya bersih, kuat. Dan detak jantungnya juga normal. Cuma ya ituu, karena jarak kehamilan pertama dan kedua jauh sekali, jadi mulut panggulnya sudah mengecil lagi. Jadi seperti kehamilan pertama lagi. Nanti, di usia kandungan 8 bulan baru bisa dilihat, saya bisa melahirkan normal atau harus operasi. Si dokter yang melihat badan saya yang kecil sepertinya ragu saya bisa melahirkan normal. Tapi waktu dia bertanya tentang kelahiran pertama, dia gak nyangka juga kalo dulu bayi saya 3,5 kg. Kata dokter, usia 30an pun masi ada yang bisa melahirkan normal. Itu semua melihat posisi kepala bayi yang harus berada tepat di mulut panggul. Semoga saja saya sehat dan masih kuat mengejan. Cuma, ya itu, hamil yang kedua ini, saya lebih sering pusing dan mualnya. Berbeda sekali dengan waktu hamil pertama. Jadi, kalo makan, mual, kadang saya muntah. Tapi dokter suruh saya untuk makan saja. Kalo makan trus muntah, makan saja lagi. Begitu terus. Kalau sudah tidak kuat makan, terpaksa diinfus. Pokoknya harus ada makanan yang masuk. Gitu.
Untuk kunjungan kali ini, saya sudah tidak diberikan resep penguat janin lagi. Kata dokter, rahim dan janinnya sudah kuat dan tidak ada penyakit kista atau miom.

Jadi, menunggu trimester pertama selesai, saya mengurangi aktivitas berat-berat. Naik turun tangga kantor kalau memang sudah perlu sekali, gak mau angkat beban yang berat. Selain menjaga kandungan, pinggul saya juga masih sakit sesekali.

Semoga kami berdua sehat sampai lahiran nanti 🙂 Lanjutkan membaca “PUNYA ANAK LAGI?”

Menikah

*sapusapublog*

Rindunyaaa cerita-cerita di siniiii~

Setelah menikah bulan April lalu, saya masih kesulitan membagi waktu untuk mengerjakan hal lain selain ngurus rumah, suami, anak, dan pacaran! :))

Namanya juga adaptasi ya. Saya juga tidak tinggal di rumah mama lagi, dan letak rumah sekarang lebih jauh dari kantor dan macet. Alhasil, sepulang kerja, saya udah kecapean dan males ngoprek-ngoprek yang lain, apalagi blog. Belum lagiii, ternyata beberapa hari sebelum lebaran kemarin saya hamil :D. Jadilah saya makin malas dan selalu cari alasan untuk malas-malasan :))

Sebenarnya banyak sekali yang mau saya ceritakan, tapi masih tersimpan di kepala, dan sepertinya bakal ngendap disitu terus :))

Semoga setelah ini kita bisa bertemu lagi dalam tulisan yaaa :*

 

Bohong

Kau itu cantik.
Walau hanya dengan riasan sederhanamu, kau selalu terlihat cantik.
Tidak, jangan melihatku seperti itu. Aku tidak berbohong.
Aku tidak sedang menyenangkan hatimu. Aku tau kau tidak akan pernah puas dengan jawabanku.

Aku melihat dari senyummu, tertawamu, diammu.
Kau cantik.

Apakah aku terlalu sering memujimu?
Aku yakin kau pasti akan menggeleng. Karena aku memang tidak pernah mengeluarkan kata kata penuh pujian. Aku tidak akan mengeluarkan kata kata manis. Aku tidak seperti itu. Aku bukan orang seperti itu. Dan aku yakin kau paham.

Kau masih belum percaya. Dan entah sampai kapan kau akan percaya.

Kau cantik.