Ruang Tunggu

Duduk diam dan menunduk, sesekali menengadah dan memandang sekeliling.
Ada banyak aktivitas disini.
Aku memberikan sedikit senyum kepada seorang Ibu yang duduk di sebelahku.
Hanya melihatnya saja. Aku penasaran.
Dia menggenggam sebuah buku berwarna kuning.
Sudah usang.

Aku mengalihkan pandangan melihat angka – angka di atas, ingin tau giliranku.
Si Ibu mulai membuka lembaran bukunya.
Aku melihatnya tersenyum saat memandang kertas – kertas yang sudah memudar itu.

Ingin mengganggunya untuk sekedar bertanya apa isi buku yang bisa membuatnya tersenyum dengan indahnya, tapi lalu aku tidak tega. Aku hanya akan mengusik kesenangannya.

Aku ingat padamu.
Kau juga selalu bisa menuliskan kata – kata yang melintas di pikiranmu.
Kata-kata yang indah. Juga membuatku selalu tersenyum.
Terkadang kau membaginya denganku, seringnya kau membacanya bersamaku.
Tapi..
Sudahlah..
Kita sudah berhenti membaca bersama dalam riang.
Kau pun sudah kusimpan, jauh sebelum tawaku hilang.

Kembali aku melihat Ibu di sebelahku.
Dia mengusap sampul buku itu dengan lembut dan membuka lembar pertama, kemudian menutupnya lagi dan membukanya lagi, kemudian memandang lama.
Aku menggeser dudukku sedikit mendekat, kemudian melirik sedikit tulisan pudar disana.

“Untuk Istriku terkasih. Ini cerita kita. Tidak apa jika kau bagikan kepada anak cucu kita kelak. Agar mereka tau, kita sangat saling mencinta. Bahkan saat aku telah tiada”

Ahh.. Duduk disini membuatku menangis.
Perlahan aku beranjak.

Indonesia Raya saja?

“Akhirnya kau meminta lagu Indonesia”

“Ahh.. kau pura-pura tidak bisa”

“Aku tidak bohong”

“Ya sudah. Lagu Indonesia Raya saja”

“Bagaimana kalau lagu Mengheningkan Cipta?”

“Ahh…”

“Kau saja yang bernyanyi ya? Suaraku jelek”

“Baiklah. Bernyanyi sampai aku tertidur?”

“Jangan.. aku masih mau bercerita banyak sampai pagi”

“Hahaha.. tidak mengantuk besok?”

“Tidak usah dipikirkan. Aku bisa tidur sepulang kerja”

“Baiklah.”

“Endah n Rhesa mungkin meniru kita. Pasti terispirasi”

“Tapi mereka bernyanyi bersama. Sedangkan kita jauh”

“Sama saja. Suaramu terdengar dekat sekali. Seperti sedang berada di depan rumahku. Tidak terdengar jauh”

“Tapi, dengar.. itu suara adzan subuh”

“Haha.. aku lupa waktu. Kau mau tidur dulu atau langsung beberes?”

“Aku tidak tidur. Kau saja yang istirahat”

“Baiklah. Sampai bertemu beberapa jam lagi. Jangan lupa memanggilku setiap hari ya. Kalau perlu setiap jam”

“Iya. Ingatkan kalau aku lupa”

“Selamat tidur”

#cumacurhat

Kemarin

Kemarin.

Ya. Kemarin.

Saat kau masih memainkan lagu ini untukku.

“Aku gak bisa nyanyi”

“Tidak usah. Aku yang akan bernyanyi. Kau mainkan saja gitarmu”

“Ada lagu Indonesia saja? Aku memang suka lagu ini, tapi bahasa inggrisku jelek sekali”

Aku tertawa. Kau hanya menggodaku.

“Baiklah. Bagaimana kalau Mocca?”

“Yang mana?”

“On the night like this”

“Mereka memang dari Indonesia, tapi itu lagu berbahasa inggris. Kau sedang meledekku?”

Ahh.. kau hanya pura-pura marah.

Buktinya, kau tetap memainkan lagu yang kumau 🙂

#cumacurhat

Akur

“Enaaakk!”
Ayunda melahap habis udang lada hitam buatan Andy.

“Kenyang? Tambah lagi?” Goda Andy.

“Jangan gitu ah. Aku jadi malu” sahut Ayunda dengan wajah memerah.

Andy tergelak. Tangannya bergerak mengacak acak rambut Ayunda.

“2 tahun dan ini tetap menyenangkan ya.”
Andy memainkan garpu ditangannya.

“Menyenangkan, sampai kadang aku lupa bernafas.”

“Untung cuma sebentar ya. Kalo kamu kelamaan lupa, aku gak punya pacar lagi deh.” Andy mengedipkan sebelah matanya.

“Maksud kamu?” Tanya Ayunda bingung. Tapi kemudian dia tersadar dan memukul pelan pundak Andy.
“Sialan. Kamu pengen aku wafat ya?” Tawa Ayunda terdengar renyah.

“Aku selalu butuh tangan lain untuk melukis pelangi.”

“Selalu ada 2 tangan ini untuk membantumu melukis pelangi.”

Andy memandang Ayunda yang sedang menatapnya.

Kamu

“Kamu seharusnya tidak perlu semarah ini!” Seru Andy.

“Kamu bisa lihat, aku tidak marah. Aku cuma kasi liat ke kamu kenyataan.”

“Aku tidak pernah nyaman dengan teman-teman kamu. Aku tidak nyaman dengan tatapan mereka. Mereka tidak pernah menerima aku.”balas Ayunda.

“Kamu cuma berprasangka.” Andy masih terlihat gusar.

“Kamu yang tidak peka. Kamu tidak pernah peduli bagaimana aku harus bergaul dengan teman-temanmu.”

“Kalau kamu perhatian, kamu pasti tau, belakangan ini setiap ada kumpul-kumpul di rumah kamu, aku kemana. Aku menghabiskan waktu dimana.”

Andy cuma diam.
Ayunda melanjutkan.
“Aku di dapur, aku di kamar. Aku ngobrol dengan Bunda. Berbicara dengan Bunda lebih nyaman daripada aku harus membaur dengan teman-teman kamu.”

“Kamu gak tau kan? Karena kamu tidak mau tau. Dan coba kamu ingat. Apa kamu pernah membela aku di depan teman-teman kamu? Gak pernah! Sekalipun tidak. Kamu cuma diam. Diam Ndy.. Dan seharusnya kamu tau kenapa aku nolak kamu sekarang. Kamu harus tanya hati kamu, baru kamu bicara lagi dengan aku. Hati kamu belum siap!

Jika

Darren membangunkan Ayunda yang tertidur di sampingnya.
“Ayu.. Bangun, Yu..”
Ayu menggeliat sebentar lalu perlahan matanya terbuka.
“Udah nyampe ya?”
“Belum. Kita berhenti sebentar. Supirnya mau makan sekalian istirahat. Kita turun juga yuk”
Ayunda merentangkan tangannya ke atas, melihat sekeliling. Beberapa penumpang terlihat tertidur pulas dan sebagian lagi sudah memesan makanan dan minuman hangat di rumah makan yang mereka singgahi.
Ayunda kemudian membetulkan jaket yang dipakainya dan menggamit lengan Darren.
“Ayo deh. Laper nih.”
Darren mengikuti langkah Ayunda menuruni bis dan memasuki rumah makan.
Setelah memesan makanan, Ayunda mengeluarkan handphone dari saku jaketnya.
“Tadi Andy telfon kamu.”
Ayunda mendongak. Suara Darren kecil sekali.
“Apa? Siapa yang telfon?”
“Tadi Andy telfon. Aku jawab trus bilang kalo kamu lagi tidur.” Ujar Darren.
Wajah Ayunda menegang. Cepat dia menekan tombol-tombol di handphonenya dan bergerak menjauh ke arah jalan.
Dari tempat duduknya, Darren melihat Ayunda sedang berbicara dengan seseorang di handphonenya. Ayunda pasti menelfon Andy. Dan mereka pasti bertengkar. Darren tersenyum kecil.
Tak lama, Ayunda kembali. Wajahnya gusar.
“Brengsek banget deh. Masa Andy marah-marah. Katanya, ngapain aku tengah malam begini barengan kamu. Pake acara tidur segala. Waktu aku mau jelasin, dia tambah marah.”
“Mungkin Andy salah paham, Yu” Darren berusaha menenangkan.
“Gak ngerti nih Andy belakangan ini sering ngajak berantem. Masa dia cemburu sama kamu. Ada-ada aja deh.”
Darren diam dan mengaduk-aduk teh manis hangatnya.
“Darren, kamu udah bilang ke Andy kalau kita mau ke Jogja kan?”
Darren mengangguk pelan.
“Udah. 4 hari sebelum kita berangkat.”
Ayunda mengaduk-aduk minumannya dengan kasar. Wajahnya masih tampak kesal.
“Yaudah. Nanti sepulang kita dari Jogja, kamu jelasin ke Andy. Biar dia gak cemburu lagi.”
“Gak akan. Andy udah aku putusin!”
Ayunda terlihat geram saat mengucapkan kata “putus”.
Darren menahan bibirnya agar tidak tersenyum.
“Terserah kamu,Yu. Jangan marah-marah lagi donk. Kita kan ke Jogja mau liburan”.
Ayunda menghela nafas dan segera meraih piring makannya.
Akhirnya mereka putus. Darren puas. Puas sekali.
Pada saat Darren akan menyuap nasi ke mulutnya, kursinya terasa berguncang.
Darren membuka matanya. Melihat sekeliling dan baru sadar kalau dia masih berada dalam bis. Kursi sebelahnya kosong.
Darren mendengus kesal. Tadi terasa nyata sekali.

Kita

Andy memandang Ayunda yang menyusulnya dengan cengiran terindah di dunia.

“Kamu bawa apa sih?” Andy melongok ke arah bungkusan besar yang dibawa Ayunda.
“Ada deh. Mau tauu aja”
“Intip dikit ajaa”
“Enggak. Nanti kalo udah jadi aku kasi liat kamuuu.”
“Pelit!”
“Biarin!”
Ayunda tertawa lalu berlari menjauh.

“Aku gak mau antar kamu pulang deh.” Andy memasang tampang merajuk.
“Hahahah… gitu aja ngambek. Andy gak asik ahh!”

“Pinjem Sigur Ros donk”
Ayunda pura-pura manyun.

“Jelek!” Andy tergelak lalu mengacak-acak rambut Ayunda.

“Malam ini makan di rumahku ya?”
“Iya.”
“Bawa gitar ya”
Andy tersenyum. Merangkul pundak Ayunda lembut.

“Take me to the person i used to be
[when you were there for me]”

pict from here

Kata Bapak , Aku Cantik

Aku menunggu Ibu dengan perasaan takut. Tidak biasanya Ibu belum pulang selarut ini. Ibu memang bekerja sebagai tukang cuci di komplek mewah di depan gang kumuh tempat aku dan Ibuku tinggal. Tapi biasanya, Ibu sudah pulang saat sore.
Kasihan Ibu. Harus bekerja keras untuk menghidupi dan menyekolahkan aku. Sementara Bapak bisanya hanya mabuk-mabukan dan menyusahkan Ibu. Tapi Ibu selalu sabar dan meminta aku agar terus menghormati Bapak.
Aku benci Bapak.
Bapak tidak sayang aku dan Ibu. Bapak sering memukuli Ibu kalau tidak diberi uang. Lalu setelah itu Bapak pergi berhari-hari dan kemudian akan pulang untuk meminta uang lagi kepada Ibu. Begitu seterusnya.
Aku capek melihat Ibu disakiti Bapak.

****
“Risa…” panggil Ibu dengan ketukan di pintu kamarku
“Ya bu…” aku beringsut dari tempat tidur dan membukakan pintu.
Ibu berdiri di depan kamarku dengan tersenyum
“Ada nak shafiq datang. Tadi katanya dia ke kantor kamu, tapi kamunya lagi cuti. Kamu temui yaa,,”
Aku memasang wajah malas dan mendengus kesal. Shafiq itu tidak pernah berhenti mendekati aku.
“Males bu.. tolong bilang aja Risa lagi gak enak badan, gak mau diganggu. Ya buuu…”
“Tidak boleh begitu. Kamu harus temui dia. Kamu sudah terlalu sering mengacuhkan dia. Nak Shafiq sepertinya baik.”
Aku mendengus kesal.
“Bapak juga dulu sepertinya baik waktu akan menikahi Ibu. Tapi setelah itu tabiatnya seperti binatang Bu.”
Wajah Ibu menegang mendengar perkataanku.
“Risa, kamu tidak boleh begitu. Sejahat-jahatnya dia, dia tetap Bapak kandungmu. “
Ibu selalu begitu. Selalu saja begitu.
Bahkan pada saat Ibu dijadikan alat untuk membayar hutang Bapak kepada temannya, Ibu selalu bisa sabar.
Aku ingat, pada malam itu, Bapak pulang bersama temannya. Seorang lelaki yang menurutku mempunyai tampang yang menjijikkan.
“Kamu cantik” katanya sambil melotot melihat tubuhku dan pandangannya terhenti lama di bagian dadaku.
Aku menunduk takut.
“Ibumu juga sangat cantik” pandangannya beralih ke arah Ibu yang segera berlari ke belakang dengan ketakutan.
Tapi lalu aku mendengar suara Bapak dan Ibu bertengkar di dapur, dan tak lama kemudian aku melihat lelaki itu dan Ibu masuk ke dalam kamar. Aku tidak tahu apa yang terjadi di dalam sana, tapi pada saat aku akan mendekati kamar itu, Bapak menarikku hingga aku terjatuh. Dengan isyarat matanya, Bapak menyuruhku masuk ke kamar.
Aku menurut sambil tetap memasang kuping. Aku mendengar suara lelaki dengan desahan yang saat itu rasanya seperti desahan binatang. Aku menutup kupingku sambil menangis.
Aku mual.

***
Akhirnya aku menuruti Ibu untuk menemui Shafiq. Dan Aku masih duduk di ruang tamu saat Ibu mendatangiku. Aku baru saja mengusir shafiq.
“Shafiq sudah pulang, Risa?” Ibu mengedarkan pandangan ke luar.
“Sudah, bu.”
“Kok tidak pamit sama Ibu?” Tanya Ibu heran
“Shafiq buru-buru, Bu.” Sahutku pelan.
“Kamu mengusir Shafiq ya?” selidik Ibu. Kemudian duduk di sampingku
Aku menghela nafas berat. Tapi tidak menjawab.
“Kamu tidak suka dengan Nak Shafiq?” Tanya Ibu lagi
Aku pandangi Ibu dengan perasaan sayang.
“Ibu ingin aku bahagia Bu?”
Ibu mengangguk pelan
“Tentu saja, Risa. Ibu ingin sekali melihat kamu bahagia. Ibu ingin melihat kamu menikah dan punya anak. Mempunyai keluarga.”
Aku berbaring dan menaruh kepalaku di pangkuan Ibu.
“Risa hanya ingin berdua dengan Ibu. Itu saja bu. Cuma itu yang membuat Risa bahagia.”
“Tapi kalau nanti Ibu mati, kamu akan sendirian. Ibu tidak selamanya bisa menemani kamu Nak.” Ujar Ibu sambil meng usap-usap rambutku.
“Biar saja Bu, Risa juga nantinya akan mati. Risa tidak takut sendirian.”
“Kamu masih sangat membenci Bapakmu sampai semua laki-laki juga kamu anggap jahat?”
Aku memejamkan mata. Bayangan bapak berkelebat.
Malam itu Ibu lembur dan aku sendirian di rumah. Bapak pulang dalam keadaan mabuk. Dia menarikku kekamar dan membantingku ke tempat tidur.

Kata Bapak, aku cantik.

Lalu kemudian Bapak menindihku tanpa menghiraukan isakanku dan rasa perih di antara kedua kakiku. dia terus menciumiku seperti anjing yang sedang menjilati makanannya. Dan suara yang keluar dari mulutnya adalah suara yang kudengar pada saat Ibu berdua dengan teman Bapak didalam kamar beberapa waktu lalu.
Aku sama dengan Ibu.
Ibu pasti kesakitan. Sama seperti aku sekarang.
Setelah puas, Bapak meninggalkanku dengan suara tawanya yang membuat kupingku terasa sakit. Hatiku sakit.
Perlahan aku beranjak keluar kamar.
Aku tidak ingat darimana aku mendapatkan pisau itu, yang kuingat hanya wajah bapak yang meringis menahan sakit saat mata pisau itu aku hujamkan ke ulu hatinya.
Aku puas.
Aku akan hidup bahagia hanya berdua dengan Ibu.
Ibu selalu berfikir Bapak masih hidup dan pergi meninggalkan kami.
Ibu tidak perlu tahu, Bapak selalu ada di halaman belakang rumah kami dulu.
Terkubur bersama sakit hatiku dan Ibu.

[Nasi Goreng] ini enak sekali….

Hei, bukan seperti itu maksudku.
Aku hanya ingin bilang, kau adalah teman terbaik di seluruh dunia.
Tidak, tidak, aku ralat. Kau teman terbaik untukku.

Maaf, mungkin aku terlalu bersemangat. Bercerita dan terus saja bercerita. Sampai kadang aku lupa untuk mendengarkanmu. Dan selalu saja seperti itu.
Tapi kau tau aku kan? Dan kau selalu mengerti.
Aku tidak tau apa yang membuatmu selalu tersenyum menanggapi celotehanku yang terkadang, aku saja merasa kalau aku terlalu cerewet.
“Tidak apa-apa. Aku senang melihatmu berceloteh. Itu artinya kau sedang sehat dan tidak bersedih.” Itu katamu.
Dan selalu saja kau yang berhasil membuatku bercerita dengan riangnya. Kita selalu berbicara dan berdiskusi tentang banyak hal yang akhirnya akan ber ujung pada perdebatan. Kau orang yang terlalu lurus dan tidak suka konflik. Sedangkan aku suka mencari masalah. Dan pada akhirnya, lagi-lagi kau yang selalu mengalah.
Aku jahat?
Jangan, jangan bilang seperti itu. Aku hanya senang diperhatikan dan dimanjakan olehmu. Kau begitu pengertian dan tenang menghadapi aku. Entah bagaimana dihatimu yang sebenarnya, tapi selama ini kau selalu menyampaikan segala ketidaksukaanmu terhadap kelakuanku dengan nada tenang, tanpa amarah. Bukan dengan cara kasar dan menyakitkan seperti caraku.
Ya, caraku. Selama ini semua selalu berjalan sesuai dengan caraku. Dan kau selalu menurut untuk menyenangkan aku.
“Selama kau tidak menyuruhku untuk terjun ke dalam jurang, aku akan senang menuruti apa maumu. Aku suka melihatmu tersenyum senang.” Itu lagi-lagi katamu
“Kalau begitu, nyanyikan aku sebuah lagu.” pintaku pada suatu malam. “Aku tidak bisa tidur. Aku ingin kau memainkan sebuah lagu.”
Dan tak lama, di seberang sana sudah terdengar permainan gitarmu yang selalu saja bisa membuatku merasa tenang.
“Aku mengantuk.” kataku pada akhirnya.
“Tidurlah. Aku akan menjagamu sampai kau terlelap.” sahutmu
Kau senang bernyanyi, dan memainkan gitar usang itu. Gitar yang terkadang aku sembunyikan disaat aku marah padamu. Tapi tidak akan lama-lama, karena aku selalu tidak sabar melihatmu memainkannya.
Unik sekali. Kita selalu bersama dan berbagi banyak hal.
Film itu. Buku itu. Lagu itu. Tempat itu. Masakan itu.
Lemariku penuh dengan buku-buku dan CD musik pemberianmu.
Hari-hariku penuh dengan menonton film, mengunjungi tempat-tempat baru dan menarik.
Bermain di halaman rumahmu yang luas, mengotori dapurmu dengan cara masakku yang buruk dan pastinya selalu gagal.

Tapi kau akan menggantinya dengan masakan lain. Masakanmu.
Ya. Kau bisa memasak.
“Aku belum juga mahir memasak sepertimu. Aku bosan.” keluhku
“Jangan begitu, aku akan terus mengajarimu sampai kau bisa.” Hiburmu.

“Untuk sekarang, Makanlah ini, perasaanmu akan tenang setelah menghabiskannya.” katamu sambil menyodorkan sepiring nasi goreng yang aromanya saja sudah membuat air liurku menetes dengan indahnya.
Dan aku semakin sayang padamu. Bukan karena kau bersedia menuruti semua mauku, tapi karena kau sangat baik padaku.
Ini cinta. Cinta yang sangat besar untuk seseorang sepertimu.
Dan Sayang….. Nasi goreng buatanmu enak sekali 🙂