Sehabis Hujan

“Aku selalu ingin melukis pelangi”

Seorang anak muncul dihadapan Melati. Sepertinya dia duduk disebelah Melati.

“Kamu suka melukis?”

“Suka sekali. Dulu aku betah duduk berlama-lama di taman ini sehabis hujan hanya untuk menunggu pelangi datang”

Melati menghela napas berat.

“Aku juga. Bayangkan lekukannya yang indah, tarikan garisnya yang sempurna, menyatu dengan langit dan bumi.”

“Aku selalu membayangkan pelangi diiringi suara tetesan air di genting, sisa hujan, dan aroma tanah sehabis hujan. Pelangi menjadi semakin indah.” Sambung anak tadi.

“Betapa beruntungnya mereka yang masih bisa melihat pelangi. Bukan hanya membayangkannya saja.”

Melati tertegun.

Perlahan digerakkannya tongkatnya ke samping dan terdengar suara berdenting.

Sent from my MochiBerry®

Advertisements

Itu Dia!

Itu dia!

Gendis merasakan jantungnya berdegup kencang seperti biasanya setiap bertemu dia.

Lelaki itu menaiki angkot dan duduk tepat di depan Gendis.

Aduh..

kenapa dia musti duduk di depanku lagi! Jantungku bisa berhenti mendadak kalo sering – sering seperti ini, keluh Gendis dalam hati.

Tangannya bergerak ke dalam tas mengambil buku dan pura – pura membaca.

Sesekali matanya mencuri pandang ke arah depan dan memperhatikan gerak gerik orang yang duduk di depannya.

Merasa diamati, orang itu melihat sekilas kepada Gendis yang segera menunduk dan lagi – lagi akting membaca.

Dia menarik. Gendis suka memperhatikan lelaki itu dari mulai pakaian hingga apa saja yang dibawa lelaki itu. Sesekali, dia juga membawa buku dan membaca hingga angkot yang membawa kami berhenti di halte dan kami berpisah disana.

Aku ingin mendengar suaranya.

Tapi dia selalu diam.

Sering aku berdoa agar ada yang menelfonnya dan aku bisa mendengar suara dan melihat gerak geriknya. Tapi sepertinya sejak kami sering bertemu di angkot ini, dia tidak pernah terlihat menerima telfon. Hanya saja, aku melihat jari – jarinya dengan lincah menekan keypad handphone. Dia pasti sedang mengetik sms.

Saat aku mulai bosan dengan bukuku, terasa ada gerakan dari arah depanku.

Aku mendongakkan kepala dan melihat lelaki itu sedang berbicara dengan seseorang di sampingnya. Dia terlihat bersemangat sekali. Senyumnya mengembang lebar. Tangannya bergerak dengan lincahnya menggunakan bahasa isyarat. Aku tau, dia sedang bercerita tentang buku yang sedang dia tulis.

Jantungku semakin berdegup kencang. Sekarang aku tau kenapa dia tidak pernah menerima telfon. Kenapa dia selalu diam dan hanya menepuk pundak supir saat akan turun dari angkot.

Aku tersenyum senang. Dia sama seperti aku
Sent from my MochiBerry®

Dilema

“Aku cinta kamu!”
Itu isi sms Bayu kemarin dan aku bingung bagaimana harus membalasnya.

Aku cinta Bayu. Sangat cinta. Tapi aku sangat takut untuk melanjutkan perasaanku.

Aku membayangkan wajah Ibu yang sangat keras dalam mendidikku. Beliau pasti akan marah kalau aku bilang tentang hubunganku dengan Bayu.

Apalagi Bapak. Bapak tidak pernah setuju dengan pilihanku. Semuanya salah. Aku selalu disalahkan.
Sepertinya Ibu dan Bapak malu punya anak sepertiku.

Aku menarik nafas dan melepaskannya dengan berat.
Aku sudah dewasa. Aku juga punya pilihan atas hidupku.
Aku capek diatur Bapak, Ibu dan kakak-kakakku.
Aku akan memilih Bayu.

Kutatap bingkai foto di atas rak. Ada fotoku dan Bayu sedang berpelukan. Itu saat kami memenangkan olimpiade Matematika di SMU kami dulu. Masih jelas tulisan di bawah foto. Aku yang menuliskannya dengan spidol hitam.

“Lomba Olimpiade Matematika SMU Nusa Bangsa tahun 2009. BAYU dan FARID”.

Paris

“Aku berangkat ke Paris saat umurku 20 tahun”
Pak Tua memandang kumpulan anak-anak jalanan yang mengerubunginya dengan semangat.
“Dari kecil, aku sangat ingin sekali melihat menara Eiffel dari dekat. Menyentuhnya. Merasakannya. Dan mimpiku itu terkabul!”

“Kau pernah merasakan salju?” Tanya Pak Tua kepada anak di depannya yang kemudian menjawab dengan gelengan.
“Aku merasakan salju pertamaku di Paris. Saat itu musim dingin dan aku berencana akan berjalan-jalan ke Museum Musee du Louvre. Dan tiba2 ada butiran es yang menyentuh hidungku. Dingin. Seperti menggigit, tapi rasanya nyaman sekali.”

Anak-anak jalanan itu masih saja tekun mendengarkan cerita Pak Tua.

“Aku juga sering berkeliling di taman bunga Roseraie Du Val De Marne. Bunga2 mawar disana akan mulai berkembang sekitar bulan Juni, yaitu saat matahari dan udara di paris sedang hangat-hangatnya. Cantik sekali.”

“Kakek, aku juga ingin ke Paris.” Celetuk seorang anak.

Pak Tua terdiam dan menghela napas berat.

“Ya. Aku juga.”

Disampingnya bertumpuk buku-buku tentang Paris.

Damai

1 kotak rokok telah kuhabiskan tanpa terasa. Aku menghisap tanpa menikmati kepulan asapnya memenuhi rongga dadaku.

“Yuda! Jangan!”

Malam memelukku. Erat sekali hingga nafasku sesak. Pekat, tapi mataku masih nanar menatap bulan.

“Aku sudah bilang supaya dia jangan kesini. Dia tidak mendengarku! Otaknya sudah gila!”

Riuh sekali disana. Tapi terdengar seperti nyanyian sunyi yang indah. Aku merentangkan kedua tanganku. Menghirup dalam-dalam luapan kebebasan. Damai.

“Yudaaa! Menjauh dari pinggir!”

Mengosongkan otak adalah hal terakhir yang harus kulakukan agar damai ini abadi. Perutku bergejolak mengikuti suara-suara dibelakangku. Dadaku meletup bahagia membayangkan tempat baruku nan indah.

Sebentar saja aku sudah merasa ringan, seperti kapas yang tertiup angin.

pic from  here

“YUDAAAAA!!”