Masjid Inna Dharma Deli Hotel

Berawal dari niatan untuk duduk duduk cantik di Killiney Merdeka Walk, saya dan babang datang kesorean sehingga waktunya nanggung sekali. Sudah dekat waktu maghrib. “Sudah pernah sholat di masjid hotel Dharma Deli?” tanya babang. Saya menggeleng pasrah. Karena memang belum pernah. Kemudian menyebranglah kami kesana.
Hotel Dharma Deli terletak bersebrangan dengan Merdeka Walk. Jadi tidak jauh. Masuk pelataran parkir, suasananya sepi. Pohon pohonnya besar. Saya sedikit takut, hehehe. Dan begitu masuk ke halaman belakang hotel, tetap disambut pohon pohon besar dan tua. Ternyata ada masjid.
Yaolooh, seumur umur ke hotel ini, saya belum pernah merhatiin kalau di halaman belakangnya ada masjid *ditabok imam masjid* :)))
Masjidnya terbuka dengan pilar pilar penyangga. Tidak ada pintu, kecuali pintu untuk kamar mandi yaa :))
Di pinggiran masjid disediakan bangku dari potongan-potongan kayu. Bersih, lumayan luas. Untuk kamar mandi dan tempat wudhu, laki-laki di bagian kiri masjid, perempuan di bagian kanan. Tempat wudhunya luaaaaasss. Kacanya banyak. Dan waktu itu saya sendirian. Sedikit spooky kalo mengingat hotel Dharma Deli adalah hotel tua. Beneran sepiii, hahaha. Saya yang kebelet buang air kecil memutuskan nanti saja waktu di Merdeka Walk. Dan gak berani juga ambil foto karena terburu-burunya wudhu dan keluar.
Bukaaaann, bukan tempatnya menyeramkan. Bagus dan bersih malah. Saya sendiri saja yang sibuk dengan pikiran horor :))
Jadi, saya suka masjid ini.

1451883647170
Enter a caption

14518837660701451883696790

Advertisements

Air Terjun Bah Biak

Melanjutkan cerita perjalanan di Sidamanik, hari kedua kami menuju Air Terjun Bah Biak yang terletak di Perkebunan Teh Unit Bah Butong.
Untuk yang tidak tahu, pasti tidak akan mengira kalau di dalam perkebunan terdapat air terjun, karena memang letaknya dekat sekali dengan pemukiman penduduk. Dan perjalanan menuju air terjun juga sangat jelek dan sempit. Waktu yang dibutuhkan kesana sepertinya hanya 15 menit, tapi karena kondisi jalannya, kami tiba disana dengan waktu 30 menit. Continue reading “Air Terjun Bah Biak”

Pemandian Alam Aek Manik

Setelah sering mendengar nama Sidamanik, akhirnya saya sampai juga disana.
Rapat tahunan kantor saya, kebetulan sekali mengambil tempat di perkebunan teh Sidamanik, Simalungun, Pematang Siantar, Sumatera Utara.

Kami menginap di mess PTPN IV, yang lokasinya tidak jauh dari Pemandian Alam Aek Manik dan Air Terjun Bah Biak, yang memang sudah direncanakan untuk dikunjungi setibanya di Sidamanik. Continue reading “Pemandian Alam Aek Manik”

Sabtu di Babar Sari

Kemarin itu adalah hari Sabtu yang beda dari biasanya.

Beda, karena biasanya itu adalah (masih) hari kerja. Tapi kali ini kami diperkenankan libur karena acara jalan-jalan.

Jadi, ceritanya, kami ini ditraktir oleh para pegawai Fakultas ISIP yang sudah PNS ini. Kami-kami yang masih honorer ini dengan senang hati dong ah jalan-jalan gratis, di hari kerja pula. Dan kebetulan, saya yang biasanya selalu ketinggalan info jalan-jalan pegawai, kali ini dikabari. Jadi, feelnya sedikit luar biasalah ya.

Jalan-jalan kali ini, masih di Medan, di daerah Tuntungan. Ini tempat pemandian dengan nama Babar Sari di kecamatan Kutalimbaru. Perjalanan kesana sebenarnya tidak terlalu jauh, tapi jalannya cukup jelek, berbatu-batu.

Setibanya disana, saya baru sadar kalau Babar Sari ini kecil sekali. Sungainya dangkal. Jadi seperti sungai buatan dengan batu batuan yang disusun di pinggirannya. Hanya di ujung sebelah kiri yang terdapat tempat yang sepertinya airnya lumayan dalam. Sekitar 6 meter. Itu saya tau dari pemberitahuan yang ada di sekitar air tersebut.

Disini juga sepertinya tidak ada yang menjual makanan berat. Hanya ada yang menjual gorengan, mie instan dan buah-buahan. Jadi lebih baik kalau ada yang berniat kesini, silahkan membawa bekal sendiri.

Di Babar Sari disediakan pondok untuk beristirahat. Harga per pondok berkisar 20ribu-25 ribu rupiah. Ada yang berada di atas, ada juga berada di bawah, dekat sekali dengan sungai.

Rombongan kami mengambil pondok di atas. Lumayan lebar, jadi bisa selonjoran. Selain itu, ada hiburan keyboard juga. Jadi ada beberapa pegawai yang tidak henti-hentinya bernyanyi dan berjoget. Kami juga mengadakan games ringan agar suasana lebih rame.

Walau tidak mengecewakan (ya iya namanya juga gratis), tapi Babar Sari bukan destinasi yang keren. Saya masih lebih menyukai Sayum Sabah atau Bukit Lawang untuk destinasi liburan air. Tapi untuk jalan-jalan hemat, Babar Sari bolehlah 🙂

BabarSari.png

Baju bekas di Kabanjahe

Sudah pernah berburu barang bekas?

Atau, sudah pernah berenang di antara tumpukan baju-baju bekas?

Saya pernah. Sering malah 😀

Entah kenapa, ada kenikmatan tersendiri saat mendapatkan barang-barang yang kita suka dengan harga yang sangat miring sekali.

Miring?? Murah banget malah :))

Untuk di kota Medan, orang-orang sering berbelanja barang bekas atau sering disebut barang monja, di daerah Pajak Sambu, Pajak Melati, Pajak Aksara, Pajak Petisah lantai atas, Pajak Simpang Limun, Pajak Simalingkar, atau Pajak Helvetia. Disana kita bisa mendapatkan beberapa item barang seperti baju, celana, horden, selimut, seprai, syal, pakaian dalam, topi, tas, dll. Kondisi barang bekas itu berbeda beda. Kalau yang sudah dipisah dan dipajang, biasanya harganya sudah mahal dan kondisinya masih bagus sekali. Tapi kalau masih ada di tumpukan lantai, harganya muraaaaahhh sekali. Barang-barang itu sepertinya dari Korea deh (liat dari merknya). Saya sering dapet baju dengan harga 2500 rupiah dan 3ooo rupiah. Ada juga yang 7500 atau 10000 rupiah :D. Bayangkan saja, dengan bekal duit 100.000, bisa pulang bawa berapa potong baju atau celana tuh :))

Itu tadi yang setiap hari ada. Atau kalau di Pajak Melati, ramenya biasanya pas pekan, yaitu hari Selasa, Jum’at dan Minggu (sampe hafal kan :p)

Ada juga yang musiman. Seperti di Kabanjahe, Sumatera Utara. Setiap perayaan 17 Agustus, di tengah kota ada pawai dan jualan barang monja itu di sepanjang jalan. Pokoknya sejauh mata memandang, tersebar kios kios dan barang-barang monja. Apa nggak sedaapp :)). Menurut pengakuan beberapa penjual yang saya tanyain, mereka itu para penjual yang biasanya berjualan di pajak pajak di Medan. Mereka sengaja ke Kabanjahe sehari sebelumnya untuk ambil lapak dan berjualan pada hari H. Dan harganya lebih murah lagi daripada harga yang mereka patok saat di Medan.

Tahun ini, saya dan teman-teman kembali lagi berburu barang-barang bekas di Kabanjahe. Karena masih libur sekolah, saya ajak Raffi untuk ikutan. Dan karena Raffi belum pernah belanja barang monja, dia bener-bener semangat sampai sedikit susah mengeluarkannya dari tumpukan baju-baju bekas itu (ini sedikit lebay, hahahah!)

Seperti tahun lalu juga, kami menginap di rumah Firman. Sebelum ke Kabanjahe, kami singgah sebentar di pemandian air panas Lau Sidebukdebuk. Udah bertahun-tahun tinggal di Medan, belum pernah kesana. Makanya disempetin biar gak mati penasaran.

Kami sampai, sudah jam 10 malem. dan masih rame. Dan rata rata, tempat pemandian disana buka 24 jam. Ada juga cewek cowok yang mau naik gunung, mlipir bentar buat mandi trus lanjut jalan lagi. Kami disana sampai sekitar jam 12 malam.

kabanjahe
Ini foto sehabis mandi. Udah capek, udah kenyang dan siap siap lanjut ke Kabanjahe

Setelah makan dan beres-beres, kami lanjut jalan ke Kabanjahe. Udah malem ciinn. Hampir jam 1 pagi dan kota udah sangat sepi. Ada kelihatan beberapa tumpukan buntelan di pinggir pinggir jalan. dan beberapa tenda yang sudah dipasang untuk berjualan monja.

Malam itu kami tidur dengan tenang dan sedikit tidak sabar menunggu terang.

Daaann,, sudah pagiiiiii..

Saya masih leyeh-leyeh di dalam selimut, Raffi sudah jalan-jalan ke seputaran rumah Firman.

Sekitar jam 9 barulah kami benar benar bergerak keluar dari dalam selimut, mandi dan sarapan. Karena udaranya dingin, ada beberapa malah yang males mandi dengan alasan “nanti kan kotor abis pulang belanja. nanti siang aja mandinya”. Jelas itu memang alasan, karena sampai malam, gak kunjung mandi juga:)))

CYMERA_20140818_223356
Tumpukan sepatu bekas. Harganya mulai 5ribu sampai 25ribu. Karena datangnya pagi, masih dapet yang bagus. Raffi lupa diri :))
CYMERA_20140818_223053
Sarung tangan. Sepasangnya 5ribu. Tapi nyari yang sepasang ini susah. Cuma yang kanan aja yang ada :))
CYMERA_20140818_222837
Tahun lalu, abang penjual ini juga pakai kostum yang sama. Kostum sapi. Untuk menarik pembeli :p
CYMERA_20140818_223027
Salah satu orang yang lupa diri belanja, sampai gak sadar kalau duitnya udah habis :))
CYMERA_20140818_005027
Wajah bahagia :))

Kami berkeliling sampai sore. Trus packing packing. Sebagian barang muat di mobil, sebagian lagi di pack untuk dikirim besok via bis.

Malamnya kami pamitan pulang dengan Mak Tua Firman yang selalu mau menampung kami. Berhenti sebentar di Penatapan untuk makan jagung dan minum bandrek.

IMG-20140819-WA0003
Nina hampir pingsan kedinginan, ternyata kelaparan. Itu Raffi bukan cemberut ya. Gak tau aja kenapa dia pose begitu :p

Senang, karena semua yang kami cari ada. Puas karena bisa ngumpul. Apalagi Raffi yang bisa jalan-jalan dengan orang dewasa, hahahha!!!

Kayaknya abis ini, saya udah bisa ajak Raffi naik gunung deh. Amiiinn

 

 

Lebaran di Namu Sira Sira

Sepertinya kami memang nagih sekali makan di rumah Inggit. Makanan buatan Bu Milly enaaaakk. Yaa walaupun sebenarnya gak sesuai dengan lidah saya yang gak tahan pedas. Tapi beneran deh, enaaakk *nyam :p

Dengan tidak tau malunya, kami berniat datang lagi dengan alasan mau sungkeman, mau maaf-maafan, mau lebaranan. Ini mau minta makan gratis sebenernyaaa. Ya ampun maafkan dosa kami ya Alloh :)))

Lagi-lagi kali ini mikir mau kemana lagi selain berkunjung rumah Inggit. Si Inggit yang anak daerah Selesai sana aja gak tau mau kemana. Katanya mau nanya adeknya, pas liat hp (kirain lagi bbman ama adeknya) ehh ternyata buka google !!! :)) Ngakak parah kalo itu. Sejak kapan dia abang adik ama google. Tapi yasudahlah, kami pasrahkan nasib kami kepadanya. Selama gak dibawa ke jurang, kami ikut aja. Pasukan kali ini ada saya, Raffi, Anim dan Gde, Firman, Dana, Natasia, Nina dan Inggit.

Waktu itu anak sekolah masih libur lebaran, jadi saya bawa Raffi ikut. Judulnya, jalan jalan ke rumah om Inggit. Senang sekali lah anak kecil itu. Apalagi diajakin buat ngambilin buah rambutan. Yaa secara Raffi mainannya selalu di kompleks, begitu ngeliat Om Firman manjat pohon, dia pun langsung menatap penuh harap kepada saya “Yasudah, naiklah”, kata saya.

Sementara mereka sibuk metik rambutan, di sisi depan pun sibuk dengan sesi pemotretan. Yaaa mumpung nemu tembok yang bisa dijadiin background :))

Lelaki baju putih ini juga tumben mau aja diajak foto. Berpose pula :))

 

Untunglah gak lama, kami disadarkan oleh suara Ibu Inggit yang mengajak kami makan siang. Sontak saja semua berlari ke dalam.
Daaaannnn … TARAAAAA!!!! Ini sungguh yummyyy!!!

Udah kenyaang?? Udaahh?? Beneran udah kenyaang?? Beneerr? Hihihii..
Selesai makan, Ibu Inggit menyarankan kami untuk pergi ke Namu Sira Sira. Dekat bendungan, katanya. Enak buat mandi-mandi. Baiklah kami menurut saja. Dan sebenarnya kami juga gak ada yang tau jalan kesana. Cuma berbekal nanya-nanya sama orang di jalan

Perjalanan menuju Namu Sira Sira ternyata lebih jauh daripada Ke Bukit Lawang kemarin. Palagi jalannya menuju bendungan itu jauh sekali dan sepi. Tapi ternyata sesampainya disana, sudah banyak orang memenuhi pinggiran sungai.
Terlalu ramai sih. Lagi lagi saya rese melihat keramaian (tinggal di kuburan aja jeung :|)
Tapi ya sudahlah. Gak mau banyak protes. Lagian saya dan Anim juga gak berencana mandi. Cuma mau mengamati para anak anak saja :p
Disini selain ramai manusia, juga ramai dengan sampah. Duuhh gimana yaaa…. saya orangnya sedikit penjijik ya. Jadi mau duduk di pondok aja rasanya susah ngeliat joroknya itu. Yang lain sih anteng-anteng aja. Yaa saya memang aneh sendiri 😀

Pondok disini disewakan dengan harga 30.000,- (lupa motoin pondoknya) dan menyewakan ban dengan harga 10.000,-. Ban rentengan yang kami pinjam, kami sewa dengan harga 30.000,- untuk 4 ban rentengan.

Raffi, si anak Menteng :))
Sebelum pulang (fotonya blur ihh 😦 )
Sekitar Pukul 6.00, kami mengajak semuanya naik. Sudah hampir maghrib. Tapi semua pada malas-malasan. Maalah ada yang berencana masih mau menyeduh kopi dan minum di tengah sungai :)).
Pukul 6.30 kami beranjak dari Namu Sira Sira dan itu sudah hampir gelap. Kami tiba di Selesai sudah pukul 8.00 malam. Lagi-lagi Ibu Inggit sudah menyiapkan bakwan goreng dan teh manis hangat untuk kami. “Habis mandi pasti lapar”, begitu kata beliau. Aaakkk kami kan terharu buuuu, apalagi pas pulang, dibekali tahu mentah “Untuk cemilan di Medan’, kata beliau lagi. Hiksss..
*sok terharu padahal senangnya minta ampun* :))
Sudah kenyang, sudah capek, terbitlah ngantuk. Firman yang awalnya nyetir baik-baik aja, lama-lama sepertinya gak kuat. Palagi harus mengantarkan kami masing-masing ke rumah. Jadilah bertukar nyetir dengan Dana.
Jadiiii… yaa gituuu, :)) :))
Ini liburanku. Bagaimana dengan liburanmu? :p

Bukit Lawang dan printilannya

Ini sedikit diluar rencana sebenarnya. Rencana awal kami,  mau berkunjung ke rumah Inggit di daerah Selesai,  Langkat. Keinginan untuk bersilaturahmi ini sudah lama kami omongin pada si empunya rumah,  tapi belum kesampaian juga. Akhirnya karena ada rejeki kesehatan,  duit dan keinginan yang kuat,  niatan itu terlaksana juga dan disambut baik oleh si empunya rumah. Tapi tetap saja rasanya kok sayang kalo cuma kesana tanpa mengunjungi tempat lain. Yaaa itung itung sekalian refreshing *fakir liburan* :))

Yang sebenar benarnya,  kami tidak tau apa saja lokasi wisata di daerah Langkat sana. Kalau mau ke Tangkahan,  dirasa kejauhan dan mendingan menginap. Terpikir dengan Bukit Lawang. Penasaran juga dengan tempat ini setelah banjir bandang tahun 2003 lalu. Kalau tidak salah juga,  itu pertama dan terakhir saya mengunjungi tempat itu sebelum bencana alam terjadi.

Dan pergilah kami, pasukan rimbang, dengan gegap gempita dan sorak sorai bergembira :p

Perjalanan ke Bukit Lawang sekitar 1,5 jam dari Medan. Kebetulan kami berangkat pagi dan tidak macet, jadi jalanan lancaaarrr.
Sesampainya disana, sesuai dengan prediksi saya, lokasi itu sudah rame dengan manusia. Rameeee dan rameeeee yang membuat sedikit males karena merasa sedikit tidak rela harus menghabiskan waktu di tempat ini dengan orang-orang yang berisik *egois*.

Entah siapa yang mengajak, tiba-tiba saja kami sudah berjalan kaki sedikit ke belakang. “Disana tidak banyak orang”, seru Firman. Saya menoleh, dan yang dimaksud Firman adalah di belakang, tempat berjejernya guest house. Sedikit lebih ke atas.

Dengan berjalan kaki, kami melewati beberapa penjual souvenir dan beberapa guest house yang semuanya terkesan “Bali” sekali. Malah ada penginapan yang terletak lebih ke atas lagi.

Bukit Lawang tampak depan
Di perjalanan ke atas, kita akan menjumpai panduan dan peringatan untuk wisatawan
Salah satu Guest House yang ada disana
Guset House yang terletak di atas. Ada beberapa lagi yang seperti ini, tapi lupa saya foto 😀

Bukit Lawang sudah menjadi konservasi orang utan sejak tahun 1973. Disini juga terdapat Taman Nasional Gunung Leuser. Menurut penjaga disana, kami hanya dperbolehkan masuk ke dalam Taman Nasional tersebut hanya pada pukul 08.30 dan 15.00 WIB. Di jam tersebut, orangotan diberi makan dan kita diperbolehkan kalau ingin ikutan memberi makan.

Ada juga aktivitas Tubing. Disini kita bisa menyusuri Sungai Bahorok dengan menggunakan ban. Kita hanya harus membayar sekitar 50.000 – 75.000. Ini juga tergantung kepintaran kita menawar.
Kemudian kita akan dibawa trekking membelah hutan, barulah menceburkan diri ke sungai.

Tubing

Saat itu, air sungai tampak surut. Biasanya, jika akan ke Taman Nasional, kita akan disebrangkan menggunakan sampan. Tapi saat itu, bisa saja menyebrang dengan berjalan kaki melewati sungai, karena memang arus sedang tidak deras dan air tidak terlalu banyak.

Taman Nasional Gunung Leuser ada di seberang

Dan pasukan rimbang segera menceburkan diri dalam air yang sejuk. Saya? Duduk duduk saja menikmati pemandangan yang disuguhkan 🙂

Ini perjalanan ke Taman Nasional
Airnya surut yahh
Abang-abang baik hati yang rela membawakan tas saya :))
Jerniiiiiiiiihhhh *airnya 😀
Gak pernah liat air :))
Bolehlah narsis yaaa :p
Pasukan Rimbang

Dan ketika perut – perut sudah meronta minta diisi, kami undur diri dari air air yang segar itu dan bergerak menuju rumah Inggit. Makanan enak sudah disediakan oleh Ibu Inggit yang baik hatiiiiiiii *peluk Ibu*

*beberapa foto diambil menggunakan kamera Natasia :*

Bertapa di SABANG

Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang keeeee…. SABANG!!

hahahahahha!!
Baiklah, itu bohong.. sama sekali bohong…
Ke Sabang itu bener, tapi berenang ke sana ya jelas cari mati :))

Persiapan mau membawa 16 orang ini benar-benar membuat sibuk panitia. Ya memang bukan aku yang urus semuanya. Udah ada adik-adik penyiar dan Ibu Kepala Radio yang sibuk wara wiri telfon sana sini untuk bener-bener mem fix kan rencana jalan-jalan ke Sabang ini. Walaupun pada akhirnya ada beberapa yang tidak sesuai keinginan dan diluar daripada jadwal, ya sudahlah. Semua harus dinikmati. Benar begituuuuuu??? 😀 *bener!!*ada yang nyaut di belakang* :))

Berangkat dari Medan naik bus yang katanya masi baru. Hohohoho nyaman loh di dalemnya. Gak terasa 12 jam udah nyampe Banda Aceh 😀

Sampai di Banda Aceh sekitar jam 9.00 pagi. Kami sudah dijemput mobil sewa yang sudah dipesan dari Medan. Ada juga bang Reza, adik dari kenalannya Ibu bos yang kebetulan berdomisili di Banda Aceh dan bersedia menemani kami selama di Banda Aceh. Jadilah kami dipisah 2 rombongan. Sebagian ke Radio Komunitas Darsa FM untuk kunjungan dan sebagian lagi ke pelabuhan Ulee Lheu untuk membeli tiket dan antri mobil yang akan dibawa ke Sabang.

Pelabuhan Ulee Lheu – Banda Aceh
 

Cuaca di Banda Aceh saat itu bener-bener panas dan kami harus menunggu beberapa jam sampai akhirnya mendapatkan tiket. Sempet mandeg liat petugas tiket di pelabuhan, karena tiap ditanya soal tiket, mereka malah lempar sana sini. Ada yang bilang kesana, ada yang bilang kesini, dan kenalan si Ibu yang bernama bang Ade ternyata tidak tau menau soal Sabang dan harus membeli tiket dimana. Ya sudahlah, berbekal arahan dari Audy yang kebetulan sudah pernah ke Sabang, jadilah aku dan Audy membeli tiket di tempat yang ditunjukkan Audy.

Kelakuan anak-anak radio nungguin tiket kapal yang masih belom jelas
Pelabuhan Ulee Lheu – Banda Aceh
Pelabuhan Ulee Lheu – Banda Aceh

Setelah dapat tiket, kami masih harus menunggu rombongan lain yang belum balik dari Radio Komunitas Darsa. Dan kami muter-muter, foto-foto di seputaran pelabuhan.

Ruang Tunggu Pelabuhan Ulee Lheu – Banda Aceh
Ini dia Tiket Ekonomi yang salah beli :))

Dan ternyataaaaaaaa setelah tadi keliling pelabuhan nyari tiket, aku salah beli, hehe. Aku cuma nanya ama petugas tiket berapa harga tiket, bukannya nanya ada kelas apa aja. Dan si petugas pun cuma menjawab harga tiket yang 20.500,-. Jadilah aku berfikir kalau tiket cuma 1 kelas dan harganya 20.500,-. Ternyata tiket kapal yang disepakati sejak di Medan itu untuk kelas Eksekutif. Dan yahh cuma bisa nyengir cantik aja. Mau gimana lagi, tiket udah dibeli dan udah sempat naik ke kapal.

Ini dia kelas Ekonomi nya

Kelas ekonomi ya seperti kelas ekonomi kebanyakan. Panas, banyak asap rokok, suara anak kecil teriak, nangis. Dan sebelnya lagi, tidak ada yang duduk di kursi yang sesuai dengan nomer tiket. Sempet emosi karena rebutan kursi, tapi lagi-lagi yasudahlah, nikmati saja perjalanan di kapal.
Dan sebenarnya lebih asik di luar sih, anginnya sejuk, pemandangannya cantik, dan gak bikin mual, hihihi

Nyampe di Sabang, harus nunggu rombongan pertama dianter ke hotel. Jadilah kami nongkrong cantik di luar pelabuhan.   
Taman tepi laut – Sabang
Taman tepi laut – Sabang            

ANOI ITAM

IBOIH

Kilometer Nol

 

di kilometer nol, kami diikuti babi hutan. Ada yang bilang, namanya Brown, mungkin karena bulubya warna coklat butek ya :))

Hari Minggu pagi, kami sudah bersiap-siap balik ke Banda Aceh. Mobil harus masuk pelabuhan untuk antri dari sejak Sabtu malam, makanya kami terpaksa sewa 2 mobil lagi untuk nganter kami ke pelabuhan.
Nahhh kali ini gak salah beli tiket lagi, langsung si Ibu bos yang turun tangan. Kelas Eksekutif!! :))

BANDA ACEH

*foto-foto dari kamera Maria Julie Simbolon dan Annisa Febrina

Wassalam (•̀⌣•́)ง

[Plankton] dan Pulau Pandang

 

photo by dani gunawan

photo by dani gunawan

Entah siapa yang pertama kali menelurkan ide untuk liburan, tiba-tiba saja sudah datang ajakan untuk pergi ke Pulau Pandang. Sedikit kaget karena sebelumnya salah seorang teman merekomendasikan Pulau Salah Nama.

Dan jadilah kami mengajak beberapa teman dan merencanakan persiapan untuk kesana. Karena belum ada salah seorangpun dari kami yang pernah ke pulau itu, jadi persiapannya sedikit membingungkan. Tapi yang terpenting adalah tenda, makanan dan minuman.

Pada hari Jum’at malam (4/3/2011) kami janjian berlumpul di pul KUPJ yang sudah saya pesan menuju Lima Puluh. Janjian sekitar pkl. 20.00 dan akhirnya ngaret 1,5 jam.

Perjalanan ke Lima Puluh sekitar 3 jam dan kami menginap di kos seorang teman. Alhamdulillah muat, karena jumlah kami 17 orang!! :D. Sabtu paginya, pkl. 06.00 kami sudah bergerak menggunakan angkutan menuju Pelabuhan Tanjung Tiram. Disana sudah menunggu kapal nelayan yang akan membawa kami ke Pulau Pandang. Jumlah total kami 26 orang, karena ada beberapa teman yang menyusul. Kami menaiki kapal nelayan yang besar yang sebelumnya sudah dipesan oleh teman yang kebetulan dinas di Lima Puluh.

 

Tidak sembarang orang boleh mengunjungi pulau ini. TNI-AL yang berpos di Pulau Pandang hanya mengijinkan para pengunjung yang telah mendapatkan surat ijin berkunjung dari Dinas Perhubungan Laut di Kota Tanjung Tiram. Surat Ijin kami pun telah diurus sebelumnya. Jadi pada saat kami tiba di Lima puluh, surat ijin kami sudah keluar.

Pulau Pandang merupakan salah satu pulau terluar yang berada di perairan Sumatera Utara. Pulau ini dijaga oleh Departemen Perhubungan. Petugas navigasi sebutan bagi mereka. Luas Pulau Pandang sekitar 8 Hektar nun jauh di Desa Bogak, Kecamatan Tanjung Tiram, Kabupaten Batubara.

Pulau Pandang

 

Benar-benar perjalanan yang kocak dan menyenangkan. Temen-temen photographer, sontak mengeluarkan kamera saat seekor lumba-lumba melintas. Tapi telat, lumba-lumbanya tidak kelihatan lagi. Sekitar 1,5 jam perjalanan, di sebelah kanan kami ada sebuah pulau. Ternyata itulah Pulau Salah Nama. Tapi kapal tidak bisa merapat kesana karena belum ada dermaganya.

2,5 jam perjalanan, dan di depan kami perlahan jelas terlihat sebuah pulau. Semuanya bersorak ketika nelayan yang membawa kami menyebutkan kalau kami telah tiba di Pulau Pandang. Begitu melihat pasirnya dari jauh saja, semuanya berdecak kagum. Batu-batu besar dan pasir putih, airnya yang jernih. Sungguh pemandangan yang indah.

Kami tiba pada saat air laut sedang surut. Jadilah kapal tidak bisa menepi dan kami harus turun ke air untuk sampai ke pantai. Para lelaki segera saja menceburkan dirinya ke laut. Sedangkan para perempuan dan barang-barang bawaan kami bergantian diantarkan ke tepi dengan menggunakan kotak fiber milik nelayan :))

Kenapa Pulau Pandang kurang terkenal oleh penduduk sekitar? Ya, karena yang mengetahui pulau itu hampir rata-rata nelayan yang memancing ke laut, kelompok pecinta alam, dan penyuka mancing saja. Penduduk masih sering memilih Pantai Bunga maupun Perjuangan sebagai tempat rekreasi. Dan itu tidak terlalu jauh dari pelabuhan Tanjung Tiram.

Di Pulau ini disediakan beberapa kamar bagi yang ingin menginap. Tapi saya dan teman-teman memilih untuk mendirikan tenda di pojokan pantai karena lebih terasa suasana pantainya. Kamar mandi hanya disediakan di dalam kamar, tetapi ada sumur diluar yang bisa dipergunakan untuk mandi. Tapi ya itu, hanya tertutup oleh seng seadanya alias terbuka, hihihi

Di Pulau ini tidak ada kantin, tidak ada resto, tidak ada kedai apalagi supermarket. Jadi, buat yang ingin berkunjung, bawalah makanan dan minuman sendiri. Kami sempat kekurangan air minum, tapi untunglah ada air tawar yang diambil dari persediaan penjaga mercusuar yang bisa kami masak.

Pulau Pandang, diapit oleh dua pulau yaitu Pulau Berhala dan Pulau Salah Nama. Untuk Pulau Berhala dijaga oleh anggota TNI, sedangkan Pulau Salah Nama adalah pulau tak bertuan, namun bermercusuar.

Walaupun sebenarnya bukan tujuan wisata, tapi banyak juga yang datang mengunjungi pulau ini. Pada malam kami disana, datang serombongan Klub mancing dan pulau kecil itu pun jadi hingar bingar. Sedikit kecewa sebenarnya, karena terlalu berisik dan terlalu ramai, tapi tak apalah. Untungnya tenda kami jauh dari rombongan pendatang itu, jadi kami bisa ngobrol sambil bakar ikan yang siang tadi diberikan oleh nelayan. Malah ada seorang teman yang ikut mancing bersama nelayan dan keesokan paginya mereka pulang membawa cumi yang banyaaaaaakkk!!!

Ada apa saja di Pulau Pandang

 

Departemen Perhubungan Distrik Navigasi yang menjaga Pulau ini, mereka berjumlah 5 orang penjaga navigasi plus disediakan pula rumah tinggal bagi penjaga plus lengkap dengan toilet. Petugas navigasi mulai masuk menjaga sejak tahun 1977, sekaligus disyahkan melalui Daftar Suar Indonesia (DSI) PETA Internasional. Adanya Mercusuar menengarai batas wilayah negara. Khususnya jalur laut. Dan sebagai lalu lintas para pelaut. Berhati-hati akan batu karang.

Untuk yang doyan fotografi, pulau ini benar-benar tempat yang pas untuk hunting foto. Batu-batu besarnya dan airnya yang jernih bener-bener membuat saya tidak berhenti berdecak kagum. Berhentinya cuma saat makan saja, hehe…

Tak lupa, ada balai tempat untuk berteduh. Bukan hanya itu, Puluhan pohon kelapa, mangga, ada jambu tumbuh di sekitarnya. Oiya, di pulau ini banyak sekali KUCING! Jumlah populasi mereka mengalahkan penjaga navigasi, hahahah… Cerita punya cerita ternyata kucing tersebut peliharaan para penjaga navigasi.

Kata salah seorang nelayan kami, terdapat sebuah batu alam besar yang terbelah dua yang dianggap keramat untuk tempat sembahyang dan berdoa orang Tiong Hoa dan Jawa. Namun saya belum sempat melihatnya ke atas. Mungkin untuk yang kedua kalinya nanti ya, heheeh. Soalnya saya belum sempat treking ke hutan di atas dan kata nelayan kami, di atas ada tempat bagus seperti kolam yang dibatasi batu-batu.

Hari Minggu siang, kami sudah harus bergerak pulang. Sedih dan belum puas rasanya. Dan lagi-lagi saat itu air laut belum pasang, sehingga kami harus berbasah-basah melewati air untuk naik ke kapal.

Perlengkapan :

  • Tenda, matras, dan sleeping bag (persiapan kalau kalau kamar penuh)
  • Makanan dan minuman sesuai hari menginap
  • Obat2an, lotion anti nyamuk
  • Kamera
  • dll, hhehehe
Akhir kata… harus ada kali kedua ke Pulau Pandang ini, dan semoga saat itu kami tidak kekurangan air lagi dan bisa lebih puas mengelilingi pulau itu 🙂

*photos by dani gunawan & windi siregar