Bohong

Kau itu cantik.
Walau hanya dengan riasan sederhanamu, kau selalu terlihat cantik.
Tidak, jangan melihatku seperti itu. Aku tidak berbohong.
Aku tidak sedang menyenangkan hatimu. Aku tau kau tidak akan pernah puas dengan jawabanku.

Aku melihat dari senyummu, tertawamu, diammu.
Kau cantik.

Apakah aku terlalu sering memujimu?
Aku yakin kau pasti akan menggeleng. Karena aku memang tidak pernah mengeluarkan kata kata penuh pujian. Aku tidak akan mengeluarkan kata kata manis. Aku tidak seperti itu. Aku bukan orang seperti itu. Dan aku yakin kau paham.

Kau masih belum percaya. Dan entah sampai kapan kau akan percaya.

Kau cantik.

Advertisements

Jangan

“Sometimes, the people who don’t talk to you are the ones who really want you“

Aku lupa membaca kalimat ini dimana. Di hp. Tadi pagi. Baru bangun. Dan masih mengantuk tentu saja. 

Terbaca lucu. Seolah olah siapapun yang berbicara padaku adalah orang yang sama sekali tidak pernah menginginkanku. 

Kenapa harus diam jika ingin?

Kenapa harus diam jika kau perlu menjelaskan sesuatu?

Toh aku bukan pembaca pikiran yang handal.

Tebakanku sering meleset.

Jangan mengandalkanku untuk membaca pikiran.

Jangan.

Hebat

Apa jadinya bila Tuhan menggunakan kuasa penuhnya terhadap kita?
Semua yang tidak, menjadi iya, begitu juga dengan kebalikannya.
Perasaan yang kita fikir sudah sangat kuat, dengan mudahnya dibolak balik.
Keyakinan terhadap manusia yang kita fikir tak tergoyahkan, dengan mudah Tuhan merubahnya.

Yang dulunya kau berfikir tentang penolakan, sekarang menjadi menerima penuh.
Dulunya ketidak yakinan, sekarang menjadi percaya.
Dulu hanya memiliki senyum, sekarang memberikan hati.

Begitu, kan?
Itu kuasamu?

Sehebat itu?

Tidak.

Terlalu banyak campur tangan Tuhan disana.

Kemudian kau menolak?
Kau takut jatuh dan terluka?

Kau tau Tuhan telah menyiapkan obat mujarab untuk menyembuhkanmu.

Menolak hanya akan menyakitimu, tetapi memaksa Tuhan untuk menerima maumu juga tidak akan lebih baik.
Kau tidak perlu membangun jalan, Ia telah tersedia untukmu.

Perlahan saja meniti, mungkin ada kebaikan disana.

Aku ingin bercerita, June

Apa kabarmu?
Rindu rasanya bercerita dan berkeluh kesah seperti yang sering kulakukan dulu. Saat ikatan waktu masih terasa melegakan dan tidak mencekik seperti belakangan ini.

Aku rindu kita yang dulu. Saat masih bisa bercerita tanpa jeda dan campur tangan hati. Tidak ada keharusan yang membuat kita selalu berangkulan atau bergandengan tangan melewati semua petikan hidup. Berjalan seperti normalnya nafas.

Kau mencariku, June?

Aku sedikit melupakanmu. Sedang bermain-main dengan emosi dan akhirnya terjatuh dalam kubangan hati.

Memuakkan bukan?

Karena hidup bukan hanya soal itu. Remeh temeh yang bagi sebagian orang, bisa membuat jantung berketuk dengan ritme diluar kelaziman.

Ini yang kau maksud dengan menjadi dewasa?

Melapangkan hati selebar-lebarnya, mendinginkan kepala yang berasap, ikhlas yang tak henti-henti.

Mereka yang berkali-kali datang sempat menebar cerita, juga menghancurkan harapan.

Lelah membuatku ingin berhenti, June.

Mungkin.

Petak Waktu

image

Waktu berjalan terlalu lambat sehingga aku masih bisa melihat banyak cerita yang belum terurai dengan sempurna.
Apapun yang menghubungkan langkahku dengan langkahmu, terasa tidak mudah untuk dilalui, bahkan untuk sekedar diresapi.

Waktu berjalan terlalu lambat mengikuti kemauan nasib. Tercecer diantara petak petak warna yang berbeda.
Tidak mauku, bahkan inginmu.

Waktu terasa menggelikan saat tertawa dibalik tangis. Dan langkahmu belum surut.

Biasakanlah [ReBlog]

“Kadang kita tidak pernah tau, bahwa hubungan kita telah berlangsung bertahun – tahun tanpa kita sadari. Hubungan kita terus berjalan bahkan tanpa komunikasi dalam waktu yang lama”

Rasanya sudah lama sekali semenjak terakhir kali kau dan aku membuat percakapan seserius ini. Aku masih ingat terakhir kali kita berbicara seserius ini, saat penolakanmu, waktu itu.

“Bagaimana mungkin?” 
Tanyamu, walaupun aku tau kau merasakan hal yang sama, bukan?“Bagaimana aku tau? aku terlibat didalammnya”
aku tidak tau pasti menjelaskannya bagaimana, tapi rasanya aku bisa merasakannya, sepertimu.“Seberapa banyakpun hubungan yang kau jalani, bukan bersamaku, tetap aku ada kan disitu? katakanlah sekelebat

Seberapa manispun hubungan yang kau jalani, bersama orang lain, tetap juga ada aku kan disitu?

Kemudian, seberapa paitpun berakhirnya hubunganmu, dengan siapapun, terkadang kau teringat akanku kan? terkadang, aku tidak meminta sering, ada, bukan?”“Bagaimana mungkin kau bisa sepercaya diri ini sekarang?”
gengsimu menjawabku.
“Bagaimana mungkin gengsimu tidak berkurang sedikitpun sampai sekarang?” 

“Jika memang teorimu dirasa benar, akan lebih sederhana jika kita menjalaninya berdua, dari dulu, menurut hematku, bukan?”
analisamu.
“Tapi rasanya aku lebih memilih sekarang, aku lebih siap untukmu, atau mungkin karena baru sekarang kau bisa menerimaku”
sepertinya aku baru sedikit menjatuhkan martabatku didepanmu, tapi aku tidak keberatan.
“Atau hubungan yang kau bilang tadi memang sebenernya ga pernah ada?”

“Menurutmu begitu?”

“Entahlah, rasanya, imajinasi sekali”
jawab keras kepalamu.
“Aku tidak tau apa yang sedang Tuhan rencanakan untuk kita, tapi rasanya itu tadi analisa terbaik yang bisa aku pikirkan”
“Kalau kau mulai berbicara soal Tuhan, rasanya aku mulai enggan membantah”
kau melunak sedikit sekarang
Kau meramahkan sedikit tatapanmu kepadaku, mengelus kembali punggung tanganku dan ini rasanya nyaman sekali.
“Percayalah, kau akan tetap mencoba membantahnya”
dan aku tidak semudah itu percaya atas kelunakanmu
Kali ini kau diam, menyandarkan kembali kepalamu di pundakku
“Lantas apa yang bisa aku simpulkan?”
tanyamu lagi
“Aku percaya pertemuan kita kali ini sudah diatur, olehNya, dan Tuhanku, tidak akan mempertemukan kita tanpa tujuan, aku percaya itu”
Jawaban terbaik yang bisa aku berikan
“Tujuannya baik?”
nadamu kuatir kali ini
“Selalu, selama kita tetap berusaha baik”
masihkah kau kuatir kali ini?
“Tapi ini enggak mungkin, kau adalah orang yang biasa aku maki2 dulu”
kau tidak segampang itu memang melepaskan jubah gengsimu
“Mungkin, biasakanlah”
tegasku
“Aku suka aroma rambutmu”
kepalamu masih di pundakku, ingat?
“Mulai sekarang, biasakanlah”
tegasmu.


Reblog from Dinosalurus
God has many ways to makes us always be grateful
May the good intentions will end well

Dirimu melawanmu

Kau tidak percaya?
Dirimu sedang melawan egomu.
Maumu yang sebenarnya bukan maumu. Tapi harus menjadi milikmu.
Yang seharusnya sudah hilang, kau cari dan kau poles kembali
Kau tidak percaya?
Mana dia yang seharusnya sudah menjadi remah-remah kenangan
Berserak di sepanjang ingatan dan ilusi
Bodoh, kau jadikan dia sebagai pondasi semangatmu lagi
Dia yang sudah mematahkan tiang-tiang kepercayaan
Dan sepetak hati yang kehilangan udara
Dirimu sedang melawan mimpimu
Yang menampilkan cerita khayal yang kau tau itu semu
Khayal dan mimpi yang membuatmu terjerembab, terluka dan berdarah
Kau obati dan kau siap untuk terjatuh lagi
Bodoh, itu yang kau lakukan berulang kali
Padahal kau teraniaya oleh sepi
Biarkan dirimu melawanmu
Tidak akan menyakitkan
Hanya memberimu udara segar
Membersihkan hatimu dari racun racun yang sempat menyebar
Melawan kebodohan
Tenang..
Tidak akan menyakitkan
breakup20711_successdating

Lelah menyapa rindu

Rindu itu kau sapa setiap hari
Pada pagi yang dingin, siang yang terang,  dan malam yang gelisah
Kau tau pasti, bahwa tidak akan ada geliat jawaban
Tapi rindu masih kau nanti
“Aku tidak lelah menunggu”, bisikmu saat itu, saat kepala dan hatimu terlihat buta dan sekeras batu.
Senyummu kau paksakan hanya untuk terlihat baik-baik saja di hadapan manusia lainnya.
“Aku akan menunggu”, lagi-lagi itu kebodohanmu setelah bulan berganti. Kau biarkan hatimu tetap terisi dengan penantian yang sia-sia. Tapi senyummu mulai kehilangan gairah.
Kau pandangi langit, seolah ada jawaban disana. Tapi hanya kelam yang terpampang nyata.
Kau sebenarnya tau, hatimu sebenarnya merasa. Kau hanya terlalu keras kepala untuk menyudahi semua.
Pada akhirnya, rindu akan menjadi lelah..
Penantian tak hidup selamanya
image