Masjid Inna Dharma Deli Hotel

Berawal dari niatan untuk duduk duduk cantik di Killiney Merdeka Walk, saya dan babang datang kesorean sehingga waktunya nanggung sekali. Sudah dekat waktu maghrib. “Sudah pernah sholat di masjid hotel Dharma Deli?” tanya babang. Saya menggeleng pasrah. Karena memang belum pernah. Kemudian menyebranglah kami kesana.
Hotel Dharma Deli terletak bersebrangan dengan Merdeka Walk. Jadi tidak jauh. Masuk pelataran parkir, suasananya sepi. Pohon pohonnya besar. Saya sedikit takut, hehehe. Dan begitu masuk ke halaman belakang hotel, tetap disambut pohon pohon besar dan tua. Ternyata ada masjid.
Yaolooh, seumur umur ke hotel ini, saya belum pernah merhatiin kalau di halaman belakangnya ada masjid *ditabok imam masjid* :)))
Masjidnya terbuka dengan pilar pilar penyangga. Tidak ada pintu, kecuali pintu untuk kamar mandi yaa :))
Di pinggiran masjid disediakan bangku dari potongan-potongan kayu. Bersih, lumayan luas. Untuk kamar mandi dan tempat wudhu, laki-laki di bagian kiri masjid, perempuan di bagian kanan. Tempat wudhunya luaaaaasss. Kacanya banyak. Dan waktu itu saya sendirian. Sedikit spooky kalo mengingat hotel Dharma Deli adalah hotel tua. Beneran sepiii, hahaha. Saya yang kebelet buang air kecil memutuskan nanti saja waktu di Merdeka Walk. Dan gak berani juga ambil foto karena terburu-burunya wudhu dan keluar.
Bukaaaann, bukan tempatnya menyeramkan. Bagus dan bersih malah. Saya sendiri saja yang sibuk dengan pikiran horor :))
Jadi, saya suka masjid ini.

1451883647170
Enter a caption

14518837660701451883696790

Advertisements

Asam padeh ala windi

10978508_10205781409075135_3055397698114502081_nA la windi? Iyyaa, soalnya bikinnya pake feeling aja. Apalagi ini dimasak dalam rangka menu makan siang mama yang lagi sakit. Jadi request supaya lebih berkuah. Trus biasanya ikannya tongkol, kali ini kita pake nila. Dan, maafkan tampilannya yg sedikit semrawut. Tapi jangan takut, tetap enak kok. Gitu. 😀 Continue reading “Asam padeh ala windi”

Blogger Istiqomah

Baru saja tercetus dari Priyasin Hardian saat saya sedang tidak melakukan apa-apa di hari Sabtu, selain membuat postingan di blog tentang review film.

“Betah ya? ngoceh di blog?”

Saya nyengir. Mungkin beliau sedikit gak ngerti kenapa saya masih saja suka ngurusin blog. Ngurusin badan malah enggak (nah, mulai main fisik :p). Dari dulu sampai sekarang masih saja ngoceh di blog, motoin makanan, motoin apapun yang bisa di share di blog. Sampai-sampai Raffi juga ikutan. Continue reading “Blogger Istiqomah”

Maleficent Review

maleficent_2014_movie-1680x10501

Oke. Film ini sebenarnya bukan film baru, tapi untuk teman-teman yang belum menontonnya, saya ceritakan sedikit ya.

Alkisah ada seorang peri anak-anak yang tinggal di sebuah hutan rahasia bernama Moors jauh dari kastil kerajaan. Peri yang bernama Maleficent ini hidup bahagia bersama makhluk-makhluk ajaib di hutan tersebut. Maleficent tidak mempunyai ayah dan ibu, tapi tidak pernah kesepian di hutan itu. Wajahnya cantik dan hatinya baik. Dia mempunyai sayap yang besar yang mempunyai kekuatan tak tertandingi. Maleficent tumbuh menjadi pelindung bagi Moors. Suatu hari, seorang anak kecil bernama Stefan berusaha masuk ke Moors dan mencuri sebutir berlian.Pencurian tersebut diketahui oleh Maleficent dari penjaga gerbang Moors, hingga akhirnya Ia meminta kembali berlian itu.

Kemudian Stefan dan Maleficent bersahabat. SaatMaleficent berusia 16 tahun, Stefan memberikannya ciuman yang dinamakan ciuman sejati. Maleficentpun mulai mencintai Stefan dan sejak itu selalu menunggu pria tersebut di Moors. Tapi, Stefan punya ambisi untuk menjadi penguasa di kerajaan. Ia pun menjadi salah satu pengawal raja Henry. Stefan melakukan berbagai cara agar bisa menjadi raja.

Stefan mengelabui Maleficent sehingga bisa mengambil sayap Maleficent dan menyerahkan kepada Raja Henry. Stefan kemudian diangkat menjadi raja dan menikahi Putri Henry.  Maleficent menderita kesakitan karena kehilangan sayapnya. Tapi kemudian Maleficent bangkit dan memulihkan kekuatannya. Tapi kini Maleficent bukan Maleficent yang baik hati seperti dulu. Hatinya dipenuhi dendam dan sakit hati.

Kemudian istri Stefan melahirkan seorang putri yang bernama Aurora. Di hari pembaptisan Aurora, Maleficent mendatangi kerajaan dan mengutuk bayi tersebut. Seperti naskah aslinya, kutukan yang diberikan Maleficent adalah di usia 16 tahun, Putri Aurora akan tertusuk jarum mesin pemintal dan akan tertidur selamanya. Ia hanya akan terbangun oleh ciuman sejati.

Karena takut akan kutukan itu, Stefan mengungsikan Aurora ke hutan dan dirawat oleh tiga peri kecil. Kehidupan Stefan dihantui rasa takut akan kutukan itu. Sementara itu, Maleficent selalu mengawasi keseharian Aurora dan tiga peri yang sama sekali tidak pintar mengurusnya. Keluguan dan kelucuan wajah Aurora berhasil mengubah dendam Maleficent secara perlahan lahan. Bahkan penyihir yang sakit hati ini selalu melindungi Aurora dari kejauhan, dan menghadirkan kelucuan saat ‘menjahili’ ketiga peri yang mengasuh Aurora.

Aurorapun tumbuh remaja dan pada akhirnya bertemu secara langsung dengan Maleficent. Maleficent melihat kesamaan dirinya dengan gadis itu dan semakin menyayanginya. Dendam itupun telah sirna dan Maleficent berusaha menarik kembali kutukan yang diberikannya, namun tidak bisa. Sementara itu, Aurora  semakin akrab dengan Maleficent yang disebutnya sebagai Ibu pelindung. Dan semakin sering berkunjung ke Moors yang tidak terlalu jauh dari pondoknya.maleficent-8

Sehari sebelum ulang tahun yang ke-16 Aurora akhirnya mengetahui asal-usulnya dan kutukan tersebut dari tiga peri pengasuhnya. Setelah mengetahui Maleficent yang mengutuknya, Aurora beralih membenci Maleficent. Aurorapun pergi meninggalkan pondoknya menuju kastil raja. Melihat putrinya yang datang, Stefan langsung mengurung Aurora sebagai wanti-wanti akan kutukan itu.

Sementara itu, Maleficent mencari seorang pria yang bernama pangeran Philip yang sebelumnya pernah bertemu dengan Aurora. Walau tak percaya dengan adanya Ciuman sejati, Maleficent berusaha menyelamatkan Aurora melalui Philip. Sesampainya di istana, Philip mencium Putri Aurora. Namun sayangnya kutukan itu tidak pudar, Putri Aurora tetap tertidur. Putus asa, Maleficentpun menyesali perbuatannya yang kejam. Sambil mengucapkan selamat tinggal, Ia mencium kening Aurora. Dan keajaibanpun terjadi, Aurora tersadar dan kutukan itupun berakhir.

Ini yang saya suka dari film ini. Ceritanya berbeda dengan sleeping beauty. Peri jahat yang digambarkan disini adalah seorang peri yang sebenarnya sangat baik hati tetapi disakiti sehingga menjadi penuh dendam dan kebencian. Penyihir jahat disini digambarkan berbeda dengan penyihir jahat lainnya.

Dan, cinta sejati itu bukan hanya datang dari sosok seorang Pangeran tampan, tapi dari kasih sayang seorang Ibu Peri Pelindung yang sangat menyayangi Aurora.

Ini tontonan keluarga yang bagus untuk akhir minggu seperti ini.

Saya beri 4 bintang untuk film ini.